Karya Sukarelawan di Rotterdam 2004
Kebanyakan Bruder di negeri Belanda sudah berpensiun.
Namum masih banyak di antara mereka yang aktif ikutserta dalam bermacam-macam
karya sebagai sukarelawan. Misalnya mengajar bahasa Belanda kepada orang
asing. Mengunjungi orang sakit. Menghibur orang cacad. Menerjemahkan.
Membantu dalam bidang administrasi. Membagikan komuni kepada orang sakit.
Mampir di rumah orang yang sepi. Sejumlah Bruder dari komunitas Rotterdam
diminta oleh redaksi untuk sharing pengalaman mereka.
( Click
the pictures to enlarge them ! )
BR. JOS STRAATES
Sekembali saya dari Ghana pada tahun 1995,
saya langsung terjun ke dalam proyek-proyek orang-orang Afrika di negeri
Belanda. Semula di kota Amsterdam, kini di Rottterdam. Salah satu dari
keaktifannya ialah mengajar bahasa Belanda kepada kelompok-kelompok kecil.
Saya mendampingi mereka dalam usaha mereka untuk dapat menguasai bahasa
Belanda secara lancar. Itu syarat mutlak untuk sukses dan maju dalam masyarakat
dan membangun hidup baru.Mereka sungguh serius mengikuti pelajaran bahasa.
Itu mendorong saya untuk tekun dalam karya yang menyita banyak energi
jasmani dan mental , demi masa depan mereka di Eropah.
| Belajar pada umur sedini mungkin |
 |
|
Saya
disemangati oleh kesungguhan mereka untuk belajar bahasa Belanda |
| Meningkatkan ketrampilan untuk membangun masa depan baru di Nederland. |
 |
BR. ALOYSIO VAN DEN BROEK
Makin banyak orang makin sepi dan sendirian. Dengan
bertambahnya usia berkuranglah mobilitasnya. Berkurangnya kesehatan membuat
orang makin membutuhkan bantuan. Kontak sosial makin jarang. Alangkah
bagusnya jika ada orang yang mau meluangkan waktu untuk mengunjungi mereka.
Seminggu dua kali Aloysius mampir di rumah orang lansia di Rotterdam,
mendengarkan pengalaman dan cerita mereka, membagikan komuni suci, pokoknya
ia hadir pada mereka. Atau ia menengok orang di rumahsakit. Karena Aloysius
pernah lama sekali tinggal di benua Afrika, ia fasih bermacam-macam bahasa.
Ia orang 'serbaguna, serbabisa'. Mengapa ada orang yang mau jadi sukarelawan?
Oleh karena merasa merasa dibutuhkan oleh sesama. Dan dalam kontak itu,
mereka tak beri, mereka terima banyak pula. Mereka saling memperkaya.
 |
Bercakap-cakap, ada kontak: itu saling memperkaya |
| Meluangkan waktu: sangat murah, hasilnya banyak! |
 |
| Mengasah 'seni' kontak yang satu dengan yang lain. |
 |
BR. LUCIANUS TIELEMAN
Tugas pokok dari bruder Lucianus terletak di bidang
administrasi keuangan. Selama hidupnya ia sangat berjasa bagi Kongregasinya
dalam bidang administrasi keuangan , pembukuan dan persoalan pajak. Sesuai
bakat, studi dan keahliannya. . Ia sungguh seorang pakar. Sekarang ia
memakai keahilannya sebagai sukarelawan: bertugas sebagai ahli dan penasehat
keuangan, bendahara, pimpinan organisasi 'pengungsi', pendidikan, dan
karya keagamaan. Membantu orang dalam hal pajak. Keahliannya dimanfaatkan
baik di Nederland, maupun di Suriname.
Apa yang menggerakkan Lucianus?
Saya suka pekerjaan itu. Itu memberi rasa puas kepada saya. Saya suka
membantu orang yang berkesusahan, dan dengan demikian saya sendiripun
masih merasa berguna. Saya belajar banyak dari semua pertemuan dan pergaulan
itu. Karena banyak kontak itu saya tetap tahu dan peka akan apa yang hidup
dalam masyarakat, peka akan suka dan duka orang. Saya senang bahwa saya
masih berguna bagi Kongregasi dan orang lain.
| Bekerja di kantor untuk membantu sesama. |
 |
 |
Berkat advis dari seorang ahli keuangan, proyek pendidikan makin
maju, seperti Sekolah Kankantrie di Suriname |
| Bekerja sebagai sukarelawan memuaskan hati manusia! |
 |
BR. KEES BUITENHOF
Tiga kali seminggu saya bertugas di sebuah rumah
perawatan orang lansia di Schiedam. Duabelas orang yang cacad mental dipercayakan
kepada saya. Tugas saya a.l. menghidangkan kopi, bercakap-cakap dengan
santai, mengantar orang ke ruang senam atau ruang musik atau jalan-jalan
ke luar rumah, membaca suratkabar dengan suara nyaring, main-main, dll.
Kalau tidak ada seorang pendamping, mereka semua diam saja di dalam kamar
rekreasi, tak ada yang buka mulut. Saya merasa ditantang untuk memeriahkan
suasana dalam ruang mereka, membuat mereka ketawa atau nyanyi atau lain.
Saya suka tugas itu, suatu pelayanan yang memperkaya hidup saya sendiri
juga. Saya tak hanya memberi, saya menerima banyak pula, banyak simati
dan kasihsayang. Bergaul dengan manusia yang linglung karena sudah berusia
lanjut, membuka mata saya akan kefanaan segala apa saja. Jika gejala Sayapun
bisa kena penyakit pikun, lalu bagaimana saya?
 |
Membaca berita dari suratkaba |
| Banyak kasihsayang yang kami terima dari mereka |
 |
 |
Menemani penghuni rumah jalan-jalan di taman dll |
BR. LEO DAENEN
Bruder Leo Daenen seorang guru dan pendidik tulen.
Ketika Yayasan Wereldvenster meminta bantuannya, ia langsung mengulurkan
tangannya. Dua kali seminggu Leo pergi dari Rotterdam ke Den Haag untuk
mengajar bahasa Belanda kepada orang-orang pengungsi dari luar negeri.
Mereka sedang menanti-nantikan turunnya surat izin tinggal di Nederland
dari instansi pemeritah. Selain itu, diadakan juga bermacam-macam keaktifan
lainnya yang bertujuan membantu mereka berasimilasi dalam masyarakat Belanda.
Apakah yang menggerakkan kaum sukarelawan dari Pusat Wereldvenster?
Motivasi mereka ialah: memberi sumbangan, betapa kecil dan sederhana pun,
agar kaum pengungi/pelari mendapat tempat layak dalam masyarakat Belanda.
Mereka berasal dari pelbagai kebudayaan dan bangsa, posisi mereka amat
tidak menentu. Ada rasa puasnya tersendiri jika para sukarelawan dari
Pusat tsb berhasil membantu mereka menemukan jalan ke arah masa depan
yang layak, Kontak dengan orang-orang asing itu membukakan mata dan hati
para sukarelawan, memperluas pandangan hidup mereka.
 |
Belajar menulis itu sangat penting |
| Kepandaian memakai computer membuka pintu ke masa depan yang baru. |
 |
|