<< Our Spirituality

KONSTITUSI

Congregatio Fratrum Immaculatae Conceptionis Beatae Mariae Virginis

Kongregasi Para Bruder Santa Perawan Maria yang Terkandung Tak Bernoda

1992

"A L L A H    A D A L A H   K A S I H"

DAFTAR ISI

REFLEKSI DASAR 6

Bagian I: Hidup Dalam Kongregasi 7

1. Demi Kerajaan Allah artikel 01 - 14 8

2. Tugas Kerasulan 15 - 34 12

3. Persekutuan Para Bruder 35 - 53 17

4. Ditopang oleh Allah 54 - 75 22

5. Pembaktian Diri 76 - 99 28

Bagian II: Pertumbuhan Dalam Kongregasi 33

6. Masa Persiapan dan Novisiat 100 - 107 34

7. Prasetia dan Pembinaan Berkesinambungan 108 - 117 36

Bagian III: Kepemimpinan dan Pengelolaan 39

8. Kapitel Umum 118 - 126 40

9. Dewan Umum 127 - 146 42

10. Provinsi-Provinsi dan Komunitas-Komunitas 147 - 158 45

11. Harta Kekayaan dan Pengelolaannya 159 - 171 47

Bagian IV: Peraturan Akhir 172 - 174 49

Daftar Kutipan 51

Bahan Acuan 51

REFLEKSI DASAR

Kita percaya akan panggilan kita untuk rnembentuk suatu persekutuan kerasulan dan persaudaraan religius.

Dalam persekutuan yang erat dengan Yesus Kristus, dengan sesama bruder, dan dengan sesama manusia, kita mengabdikan diri kepada pertumbuhan terus-menerus Kerajaan Allah di dalam diri kita, di dalam persekutuan kita, di dalam Gereja, dan di dalam dunia tempat kita hidup.

Sebagai kongregasi, kitaterutama membaktikan diri kepada karyapendidikan dan pembinaan Kristiani, namun tetap terbuka terhadap tanda-tanda zaman dan terhadap Roh yang berembus ke arah yang dikehendaki-Nya.

Orang perseorangan dan kelompokyang mendapat perhatian istimewa dari Yesus Kristus juga menjadi perhatian dan keprihatinan kita yang utama.

Kita saling menyebut diri bruder (saudara) dan secara jujur serta sungguh-sungguh berhasrat menjadi saudara seorang bagi yang lain dan bagi semua orang, baik dalam menerima maupun memberikan cinta.

Maria adalah pelindung kita. Ia memberikan inspirasi kepada kita.




BAGIAN I

HIDUP DALAM KONGREGASI

1. Demi Kerajaan Allah

1 Menjadi Manusia

Kita hidup di dunia ini sebagai manusia, bersama dengan semua manusia yang lain. Seperti dicita-citakan oleh setiap manusia, kita ingin membuat hidup kita sebaik mungkin. Seperti setiap manusia, kita mengingini kebahagiaan yang terdalam dan paling sempurna.

Menjadi manusia yang sebenarnya dan yang se-sungguhnya, itulah yang kita pandang sebagai tugas khusus hidup kita. Kita ingin melaksanakan tugas khusus ini dengan sungguh-sungguh.

2 Dalam Allah

Pernyataan tersebut di atas didukung dan dikuatkan oleh iman kita kepada Dia yang menjadi dasar seluruh ada kita. Kita percaya bahwa seluruh hidup kita ditopang oleh Allah yang berpribadi, Allah yang merangkul kita dan semua orang serta segala yang ada, Allah yang adalah kasih.

3 Allah Manusia Bersama Kita

Kita ini terbatas. Oleh karena itu, jika Allah tidak me-wahyukan diri-Nya, la tetap tak dapat kita bayangkan. Kita percaya bahwa la telah mewahyukan diri-Nya. Dalam Yesus dari Nazaret, kita melihat citraAllah yang hidup. Dalam Yesus dari Nazaret, Allah adalah manusia bersama kita.

4 Berkembang ke Arah Yesus

Yesus mewahyukan kepada kita citra manusia yang memenuhi kehendak Allah secara sempurna. Oleh karena itu, menjadi manusia yang baik, menjadi manusia yang lebih baik, berarti berkembang ke arah Yesus, semakin menyerupai Yesus; menimba kehidupan dari hidup-Nya; menjadikan Kabar Gembira Kerajaan Allah pesan bagi kita sendiri.

5 Dalam Gereja

Kita mewujudkan hal ini dalam keterbatasan dan ke-lemahan kita, tetapi juga dalam kekuatan rahmat Allah yang mengangkat kita melampaui diri kita. Kristus memanggil kita untuk membaktikan diri kita bagi datangnya Kerajaan Allah, yaitu kerajaan "kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita oleh Roh Kudus". (1)

Kita melaksanakannya sebagai anggota Gereja-Nya. Ia memandang Gereja-Nya sebagai ragi yang meresapi segalanya, sebagai benih yang kuat bagi persatuan, harapan, dan keselamatan. (a)

6 Sebagai Bruder

Di dalam Gereja ini, kita berusaha mewujudkan pem- baktian kita kepada Allah secara khusus di dalam Kongregasi.

Kabar Gembira Yesus merupakan asas pokok pedoman hidup kita; dan melalui triprasetia, kita berjanji ingin taat, miskin, dan wadat, yang dibaktikan demi Kerajaan Allah.

Dalam nama Yesus, kita membentuk suatu persekutuan persaudaraan, dalam Roh-Nya kita berusaha menjadi saudara (bruder) seorang bagi yang lain dan bagi semua manusia. Kongregasi kita merupakan kongregasi kepausan, lembaga hidup bakti bagi awam religius pria yang membaktikan diri pada karya kerasulan.

7 Ludovicus Rutten

Kongregasi kita didirikan pada tahun 1840 oleh Pastor Ludovicus Rutten. Imam muda ini mengalami suatu panggilan untuk menyerahkan seluruh hidupnya dan semua kekayaannya bagi pelayanan pendidikan dan pembinaan Kristiani kaum muda. Ia terutama memberikan perhatian kepada kaum muda yang miskin dan telantar di kota kelahirannya, Maastricht, yang pada waktu itu kondisi sosialnya amat sangat buruk.

8 Bernardus Hoecken

Pada tahun 1840, Bernardus Hoecken menjadi pemimpin pertama komunitas pertama kongragasi kita. Pada waktu itu, dia sendiri masih seorang novis, sedang teman-teman sekomunitasnya masih berstatus sebagai calon bruder (aspiran). Pada tahun 1842, dia termasuk bruder pertama yang mengucapkan prasetia mereka. Bertahun-tahun lamanya, dia bersama Pastor Rutten memimpin persekutuan yang semakin berkembang. Sama seperti Pastor Rutten, dia merasa bahwa prioritas kerasulan adalah pendidikan dan pembinaan Kristiani. Dengan tegas dia mendesak para bruder agar tak pernah melalaikan orang miskin.

9 Dalam Semangat Para Pendiri

Para pendiri kongregasi kita adalah orang-orang yang teguh dalam niat dan tindakannya, penuh dengan Roh Yesus. Mereka terpesona oleh kepribadian dan amanat-Nya. Mereka menyadari panggilan dan tugas khusus untuk menyebarkan Kabar Gembira-Nya. Hidup sesuai dengan semangat para pendiri berarti bahwa kita berusaha mengikuti teladan mereka, sesuai dengan zaman dan kenyataan-kenyataan kita, dan menjaga warisan mereka.

10 Menjaga Warisan Para Pendiri

Menjaga warisan para pendiri kita berarti:

- kita sungguh-sungguh sangat memperhatikan kebutuhan-kebutuhan spiritual dan religius; juga perhatian besar terhadap pewartaan iman yang diintegrasikan dengan kebudayaan sezaman;

- kita memandang pendidikan, pengajaran, dan pembinaan, sebagai tradisi utama kerasulan kita;

- kita dalam berbagai situasi, terus-menerus memberikan perhatian secara istimewa terhadap yang miskin dan yang berkekurangan;

- kita tetap memahami dan terbuka bagi perkembangan-perkembangan yang sehat; kita menjunjung tinggi nilai hidup kasih persaudaraan; kita saling menyebut "bruder" (saudara) dan berniat mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari;

- kita secara khusus menghormati Santa Perawan Maria. (b)

11 Para Bruder yang Telah Meninggal

Kita tidak hanya ingin tetap menghidupkan kenangan akan para pendiri kongregasi kita, melainkan juga ingin mengalami hubungan yang tak terputus dengan semua bruder yang telah meninggal. Kita menghormati warisan mereka dengan cara bersyukur atas inspirasi teladan mereka. Kita mengingat mereka di dalam doa-doa kita dan mempercayakan diri kita kepada perantaraan mereka.

12 Maria

Santa Perawan Maria adalah Pelindung Kongregasi kita. Kita berbahagia menempatkan hidup kita di bawah perlindungannya yang istimewa. Kita menyebut diri kita "Para Bruder Santa Perawan Maria yang Terkandung Tak Bernoda". (Fratrum Immaculatae Conceptionis/FlC). Kehidupan Maria sepenuhnya dibaktikan bagi pelayanan terhadap putranya. Ia memandang dirinya sebagai hamba yang hina-dina, yang mengalami bahwa Tuhan mengerjakan karya agung dalam dirinya. Di dalam Kidung Magnificat-nya, kita merasakan perhatian utamanya terhadap yang miskin dan yang berkekurangan, dan kerinduannya terhadap keadilan dan kebenaran. Dia adalah Ibu semua or ang beriman. Melalui semua keraguan dan ketidakpastiannya, ia tetap setia terhadap putranya, bahkan sampai di Kalvari. Oleh karena itu, semua bangsa menyebut dia berbahagia. Ia juga memberikan inspirasi kepada kita. Kita ingin mengikuti teladannya, dan kita memohon pertolongannya dalam doa-doa kita.

13 Pengaturan Hidup Kita

Agar kita bersama-sama dapat mewujudkan cita-cita hidup kita, dengan mengikuti teladan para pendiri kongregasi, perlulah kita mengadakan kesepakatan bersama. Untuk itu diperlukan:

- Konstitusi

- Statuta Kongregasi

- Statuta Provinsi

- Peraturan-praturan yang berlaku bagi setiap komunitas.

14 Maksud Peraturan

Peraturan-peraturan kongregasi kita sendiri maupun Hukum Kanonik semata-mata dimaksudkan sebagai pertolongan dalam mewujudkan cita-cita injili. Berpedoman pada sabda Yesus, "Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk Hari Sabat, " (2) kita harus selalu menyadari bahwa suatu peraturan tak pernah boleh menghambat tercapainya tujuan yang ditetapkan dalam peraturan itu.

2. Tugas Kerasulan

15 Dipanggil dan Diutus Bersama

Sebagai bruder, kita menyadari bahwa kita dipanggil dan diutus untuk ikut serta dalam karya Yesus. Ia berkeliling sambil berbuat baik. Ia memberikan kesaksian mengenai kebenaran. Ia datang untuk melayani. Ia datang untuk menyelamatkan, dan la membawa amanat yang membebaskan, yaitu amanat kerajaan Allah, amanat cinta kasih. Ia mengundang kita untuk menyerahkan diri bagi pelayanan Kerajaan Allah.

16. Dalam Semangat Para Pendiri

Kita berhasrat melaksanakan panggilan dan pengutusan kita dalam semangat para pendiri kongregasi. Kita merasa diri sesemangat dengan mereka. Kasih dan keprihatinan mereka kita terima sebagai kasih dan keprihatinan kita sendiri. Kita menganggap warisan mereka sebagai harta mulia, yang hanya dapat kita hayati dengan memberikan perhatian penuh hormat terhadap tradisi dan dengan tetap terbuka bagi tanda-tanda zaman. Dalam semangat para pendiri, kita - sebagai kongregasi - memutuskan bahwa tugas kerasulan kita terutama dalam bidang pendidikan, pengajaran, dan pembinaan.

17 Perhatian Istimewa Kita

Hidup sesuai dengan semangat para pendiri, terutama berarti memberikan perhatian istimewa kepada kaum miskin dan yang berkekurangan, yang tersingkirkan dan yang cacat, yang lemah dan terlupakan, dan mereka yang kurang mengalami cinta kasih.

18 Pewartaan Iman

Hidup sesuai dengan semangat para pendiri juga berarti bahwa dalam kegiatan kerasulan kita, pewartaan iman yang sungguh-sungguh diintegrasikan dengan kebudayaan sezaman hendaknya mendapat perhatian utama.

19 Di Luar Negeri Asal

Suatu tradisi yang berharga dalam kongregasi yaitu kesediaan untuk menolong membangun dunia yang lebih layak bagi manusia di luar tanah air sendiri. Banyak bruder meninggalkan bangsa dan kebudayaan mereka sendiri untuk menyebarkan Kabar Gembira dengan perkataan dan perbuatan di negara-negara lain, dan mewujudnyatakan Kerajaan Allah.

20 Diresapi oleh Semangat Kerasulan

Kerasulan lebih daripada kerja semata-mata, lebih kaya dan lebih dalam. Karya yang dilaksanakan dengan semangat pengabdian dan kasih serta didasari oleh sikap dasar religius, dapat berubah menjadi kerasulan. Kita mencita-citakan seluruh hidup kita diresapi oleh semangat kerasulan. (c)

21 Cermat dan Tepat Guna

Jika kita bermaksud membangun kerasulan kita secara cermat dan tepat guna, kita dituntut antara lain harus sungguh-sungguh memahami arah gejala spiritual dan kebutuhan sezaman, serta situasi dan kondisi negara dan tempat kita bekerja.

22 Kesiapsediaan

Kongregasi kita diharapkan memiliki sikap kesiap-sediaan yang besar dan tanpa pamrih. Hendaknya kita mengabdikan seluruh diri kita di mana saja dibutuhkan dan dengan carayang paling sesuai. Hal ini menuntut keberanian, penyangkalan diri, keugaharian, dan penghargaan atas kemampuan kita. Persekutuan kita akan selalu terbatas dalam kemampuan karena tradisi, sarana dan prasarana, karena jumlah anggota; karena keterbatasan-keterbatasan dan kelemahan-kelemahan manusiawi para anggota. Karya yang terlalu banyak dan bermacam ragam, betapa pun baik maksudnya, mengakibatkan kedangkalan serta tidak tepat guna.

23 Menurut Harapan Kongregasi

Dalam pengabdian kerasulan, kita diharapkan sanggup bekerja dengan cara bagaimana pun serta di rnana saja kongregasi - melalui para pemimpin kita - menghendaki, terutama jika hal ini berlawanan dengan keinginan, kesenangan, atau penilaian kita sendiri. Hal ini mungkin amat sulit, namun sebagai religius kita menyediakan diri kita secara total.

24 Kerjasama dengan yang lain

Kesediaan total, lebih lanjut menuntut kesediaan kita mengupayakan kerja sama dengan orang lain; juga kalau bekerja di luar kongregasi kita, apa lagi sebagai bawahan.

25 Bermanfaat Sedapat Mungkin

Kesediaan total menuntut dari kita masing-masing kemauan untuk mengembangkan diri sebaik-baiknya dan seharmonis mungkin. Tidak hanya selama tahun-tahun pembinaan saja, melainkan terus-menerus seumur hidup. Kita yang menyerahkan diri dalam kongregasi yang merasul (apostolik), hendaknya sungguh menjadikan diri bermanfaat sedapat mungkin. Kebijaksanaan kongregasi secara keseluruhan harus pula ditandai oleh perhatian terhadap pembinaan dan pengembangan terus-menerus.

26 Diutus Berama

Semua bruder - dengan cara bagaimana pun - terlibat dalam tugas kerasulan kita bersama, dan dalam memenuhi tugas kita, kita perlu mengandalkan dukungan persekutuan. Pilihan jenis kegiatan kerasulan serta bagaimana cara melaksanakannya, memerlukan pertimbangan terus-menerus di dalam persekutuan kita. Dalam hal ini, kita hendaknya memperhatikan tanda-tanda zaman, dan dalam iman terbuka terhadap dorongan Roh Kudus.

27 Pribadi dan Persekutuan

Tugas pribadi kita masing-masing harus dipandang dalam teraqng tugas kerasulan kita bersama dalam persatuan dengan Gereja seluruhnya. Tugas-tugas kita dapat saja sangat berbeda. Hal ini bergantung pada kebutuhan-kebutuhan yang dilayani oleh persekutuan, pada kesadaran dan keyakinan pribadi, pada pertimbangan-pertimbangan di dalam persekutuan, pada kebijaksanaan yang memimpin, dan pada karunia-karunia masing-masing yang telah kita terima dari Roh, "Ada berbagai karunia, tetapi satu Roh. Dan ada bermacam-macam pelayanan, tetapi satu Tuhan."(3)

Kita masing-masing dapat menggunakan karunia-karunia untuk melayani orang lain, dalam kesadaran bahwa kita semua tidak sempurna, dan saling membutuhkan. "Karena tubuh juga tidak terdiri dari satu anggota, melainkan dari banyak anggota." (4)

28 Dalam Suka dan Duka

Tugas kerasulan kita dapat memberikan kepuasan yang besar, sehingga kita menyatu dengan tugas tersebut dan berkembang dengan subur karenanya, sehingga kita mengalami sukacita manusiawi yang rnendalam sebagai manusia yang penuh daya cipta.

Hal ini menuntut daya upaya, yang akan mendapatkan imbalannya, karena kita melihat hasilnya. Maka dari itu, merupakan suatu berkat bahwa kita boleh bekerja, bahwa kita mampu mencapai sesuatu, dan bahwa melalui pekerjaan kita dalam bidang apa pun, kita dapat menolong sesama ciptaan. Semua itu merupakan sumber kegembiraan yang memperkaya, meskipun disertai dengan segala kerepotan dan kesukaran.

Tugas kita juga membawa kekecewaan, akibat dari keterbatasan kita sendiri maupun kekurangan orang lain. Dalam hal ini, kita dihibur oleh kesadaran bahwa pengurbanan dan penderitaan dapat menyuburkan karya kita. Meskipun mungkin melelahkan dan membosankan serta kehilangan daya tariknya, kita diminta tetap bertekun, dalam kesetiaan penuh kepercayaan. "Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, melainkan Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus. " (5)

29 Pengaturan Hidup Kita

Hidup kita hendaknya diatur selaras dengan tuntutan-tuntutan kerasulan. Kita tidak diharapkan untuk mengisi hidup kita dengan hanya bekerja keras dan tepat guna. Tanggung jawab kerasulan kita akan menjadi lebih kaya dan berakar mendalam, jika disediakan waktu yang cukup untuk berefleksi dan berdoa, untuk berkontak sungguh-sungguh dengan sesama, untuk berpartisipasi dalam kehidupan persekutuan, dan untuk beristirahat, serta berekreasi.

30 Lebih Bernilai daripada Pekerjaan

Seorang manusia lebih bernilai daripada pekerjaan yang dapat ia selesaikan. Apa yang kita kerjakan memang penting. Tetapi "diri kita" justru amat lebih bernilai. Maka dari itu, hidup mereka - yang karena usia lanjut, karena sakit, atau karena alasan lain apapun, sehingga tidak mampu berpartisipasi dalam tugas kongregasi - dapat terus tetap bernilai, baik bagi diri mereka sendiri, bagi persekutuan kerasulan kita, maupun bagi banyak or ang lain.

31 Kerasulan dan Penghayatan Triprasetia

Pada hari penyerahan diri, dengan mengucapkan triprasetia, kita mengungkapkan keinginan untuk membebaskan diri kita bagi Allah dan untuk membaktikan diri kepada-Nya. Pembaktian diri kepada Allah harus terwujud dalam pengabdian diri kepada sesama, dan dalam menaruh perhatian penuh kasih kepada mereka. Triprasetia dan kerasulan kita tidak terpisahkan satu dari yang lain. Penghayatan triprasetia memperkaya semangat kerasulan kita, dan sekaligus kita boleh berharap, bahwa kegiatan kerasulan kita akan memperdalam penghayatan triprasetia kita.

32 Kerasulan dan Persekutuan

Kita mengakui cita-cita pribadi sesama bruder kita. Kita semua merasakan terus didukung dan dikuatkan oleh semangat kerasulan yang menggerakkan para pendiri kongregasi kita. Hal ini merupakan ikatan yang mempersatukan dan memperkuat persekutuan kita. Sebaliknya, persekutuan mendukung dan memberikan inspirasi kepada setiap bruder dalam tugas mereka; tidak hanya selalu melalui pertimbangan-pertimbangan bersama, melainkan juga melalui bantuan dan perhatian yang nyata, misalnya dengan menaruh bela rasa dan pengertian, dan denganmemberikan perhatian khusus kepada para bruder yang mengalami kesukaran-kesukaran dalam karya mereka. "Karena itu, Jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut dihormati." (6)

33 Kerasulan dan Doa

Kehidupan doa kita ditandai oleh motivasi kerasulan kita, dan motivasi kerasulan kita diperkaya oleh doa kita. Sebagai orang beriman, kita terbuka terhadap sesama, dan bersama dengan mereka kita berada di hadapan Al lah.

34 Persatuan dalam Kasih

Semangat kerasulan kita meresapi hidup persaudaraan, doa, dan penghayatan triprasetia kita. Penghayatan triprasetia, doa, dan kehidupan komunitas, menyuburkan dan menghasilkan buah bagi kerasulan kita. Semakin mendalam hidup kita, dan semakin sungguh kita mencari Allah yang mahakasih, maka segala sesuatu dalam hidup kita pun akan semakin harmonis, bertemu, dan menyatu. "Allah adalah kasih," (7) dan dalam Dia segala sesuatu akan bergabung dalam kasih.

3. Persekutuan Para Bruder

35 Sehati Sejiwa

"Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi seperti Aku telah mengasihi kamu." (8) Bersama-sama, sebagai bruder, kita berusaha melaksanakan perintah Kristus ini. Kabar Gembira tentang datangnya Kerajaan "kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita" (1) kita jadikan amanat kita sendiri. Oleh karena itu, didorong oleh Roh-Nya, sama seperti orang-orang Kristen perdana, kita berhasrat hidup "sehati sejiwa" (9), karena kita merupakan persekutuan, dan kita berusaha sungguh-sungguh untuk membangun persekutuan di luar lingkungan kita sendiri. Menyadari bahwa kita dipanggil untuk bersatu dan bersetia kawan, kita mewartakan Kristus yang seorang kepada yang lain dan kepada semua orang.

36 Saudara Seorang bagi yang Lain

Kita dipanggil untuk membahagiakan sesama, terutama mereka yang membentuk persekutuan bersama kita. Kita saling menyebut "bruder" (saudara) dan berusaha untuk menghayatinya di dalam persekutuan kita.

37 Membentuk Persekutuan

Membentuk persekutuan berarti saling mendampingi dalam suka dan duka; bersedia saling mengerti dan memahami, saling menghargai, mendorong, memberikan inspirasi, dan terus-menerus siap sedia saling mengampuni; "... berusahalah berbuat baik, seorang kepada yang lain, dan kepada semua orang." (10)

38 Sebagai Ciptaan yang Tak Sempurna

Sebagai ciptaan yang tak sempurna, kita hanya dapat melaksanakan hal tersebut di atas secara tak sempurna dan banyak kekurangan. Meskipun demikian, kita tetap berusaha mengejar cita-cita ini. Walaupun kita saling melukai dan mengecewakan - karena kelemahan-kelemahan manusiawi - kita tetap berusaha melihat dan menghargai hal-hal yang baik dalam diri sesama bruder. Dengan demikian, kesedihan yang saling kita timpakan dapat juga menjadikan kita mampu berkembang ke tingkat kemanusiaan yang lebih mendalam, serta lebih erat mempersatukan persaudaraan kita. Meski bagai-mana pun, kita bersyukur karena kita dapat bersama-sama mengalami hal-hal yang berharga.

39 Perkembangan Pribadi

Sementara kita terus berkembang menjadi orang yang sungguh-sungguh dewasa dan kaya secara rohani, kita akan menjadi semakin berarti bagi persekutuan persaudaraan kita. Kita semakin bertanggung jawab bersama; bila dikehendaki, kita menawarkan pendapat kita secara jujur; kita bersedia mendengarkan orang lain dan menerima pertolongan mereka; kita hendaknya menghargai orang lain, meskipun dalam kenyataan mereka berbeda dengan kita; kita mampu memberikan diri kita bagi orang lain namun tetap menjadi diri kita sendiri.

40 Perhatian bagi yang Membutuhkan

Dalam persekutuan yang erat bersatu padu, terwujudlah perhatian yang penuh kasih bagi yang sakit, yang lanjut usia, mereka yang membutuhkan, dan semua yang sedang mengalami saat-saat berat, apa pun alasannya. Sedapat mungkin dan bilamana dikehendaki, hendaknya diupayakan pertolongan yang baik dan profesional; namun pertolongan yang baik dan profesional saja belum cukup. Masih diperlukan perhatian secara pribadi, bela rasa, dan pengertian. Tanda penghargaan, betapa pun kecilnya, sangat bernilai.

41 Pembicaraan, Kontak, dan Musyawarah

Pembicaraan, kontak timbal balik, dan musyawarah secara terbuka, sangat diperlukan bagi kesatuan, pembangunan, dan berfungsinya kongregasi kita. Jika kita ingin membangun persekutuan persaudaraan yang sungguh-sungguh, pembicaraan kita hendaknya ditandai dengan rasa hormat seorang terhadap yang lain, meskipun berbeda pendapat.

Pembicaraan kita hendaknya juga ditandai dengan kasih timbal balik serta terus-menerus saling menjaga dan memelihara; dengan secara istimewa saling melibatkan diri dalam cita-cita kerasulan, dan dengan saling memberikan perhatian terhadap suka dan duka masing-masing.

42 Berbagai Bentuk Musyawarah

Kapitel-kapitel dan pertemuan-pertemuan komunitas sangat penting untuk menemukan bersama apa yang dikehendaki Allah dari kita. (Lihat bagian 111).

Kita menjunjung tinggi nilai-nilai pertemuan-pertemuan semacam itu. Namun, bermacam-macam bentuk pembicaraan yang tidak resmi dapat juga mempunyai arti yang besar bagi kehidupan bersama sebagai saudara dan bagi kerasulan kita.

43 Kesatuan dalam Keanekaragaman

Kongregasi kita terbagi atas provinsi-provinsi, dan setiap provinsi terdiri dari sejumlah komunitas (Lihat bagian 111). Kesatuan kita sebagai kongregasi merupakan kesatuan dalam keanekaragaman. Kita mengejar kesatuan, tetapi kita menghormati keaneka-ragaman yang terdapat dalam kesatuan itu. Adaperbedaan-perbedaan dalam kepribadian bangsa, bahasa, dan kebudayaan; perbedaan dalam situasi-situasi Gereja, nasional, atau setempat; perbedaan-perbedaan dalam kemungkinan-kemungkinan dan harapan kerasulan; juga perbedaan-perbedaan watak, bakat pribadi, dan pengalaman. Kita merupakan satu kongregasi, tetapi tidak mengikat seorang dengan yang lain dengan keseragaman yang kaku. Setiap pribadi, komunitas, dan provinsi, berbeda yang satu dengan yang lain. Keanekaragaman ini memiliki pengaruh yang memperdalam dan memperkaya, apabila dilaksanakan secara tepat. Keanekaragaman tidak perlu merusakkan kesatuan kita. Dalam keanekaragaman, kita dapat terus-menerus membentuk suatu persekutuan yang kuat, dan tetap dapat dikenal sebagai saudara (bruder) seorang terhadap yang lain, sebagai anggota kongregasi yang sama.

44 Hidup Persekutuan

Semua bruder tinggal dalam sebuah rumah kongregasi. Hanya dalam hal-hal yang istimewa dengan persetujuan Pemimpin Provinsi, bruder tertentu dibolehkan menyimpang dari ketentuan tersebut. Bersama dengan sesama bruder serumah, kita membentuk suatu persekutuan. Sebagai saudara seorang terhadap yang lain, kita hendaknya berusaha sekuattenaga untuk menjadikan persekutuan kita suatu persekutuan cinta kasih yang nyata. Membentuk persekutuan bersama sebagai sesama bruder berarti tumbuh dalam keselarasan dan kasih sayang, menjadi sungguh dekat seorang dengan yang lain sebagai saudara, saling menaruh perhatian terhadap karya masing-masing, sungguh-sungguh memperhatikan kebahagiaan pribadi setiap bruder serumah, mengusahakan agar hidup ini sungguh berarti dan bermanfaat seorang bagi yang lain. Dalam berusaha keras untuk mencapai semua itu, tentu saja setiap bruder berhak menjadi dirinya sendiri, dan kita masing-masing hendaknya saling melengkapi, "Sebab itu, terimalah seorang akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Al lah." (10) (d)

45 Kebersamaan

Dalam hidup persaudaraan, dengan banyak cara kita dapat mengungkapkan dan meningkatkan kesetia-kawanan sebagai saudara. Selain dengan musyawarah bersama, perayaan Ekaristi dan doa bersama mengungkapkan persatuan kita dalam iman dan memperteguh kesetiakawanan kita. Selain itu, saat-saat makan dan santai bersama dapat menjadi tanda persatuan serta meningkatkan kesatuan kita. Kita saling menyebut bruder (saudara), dan berhasrat semakin dekat seorang dengan yang lain. Oleh karena itu, kehadiran kita pada pertemuan-pertemuan komunitas sangatlah berharga.

46 Persekutuan Lebih Luas

Tidak hanya persekutuan lokal yang menuntut perhatian kita, melainkan juga persekutuan yang lebih luas, yakni provinsi atau kongregasi, misalnya dalam pemindahan, pengangkatan, penugasan, permintaan pertolongan, atau dalam mengandalkan kerja sama dalam bertindak. Oleh karena itu, perlu adanya kemauan untuk mengesampingkan kesenangan dan keinginan sendiri demi pelayanan terhadap kepentingan persekutuan.

Hal ini mungkin sulit, terutama jika pendapat pribadi kita tidak sejalan dengan pendapat pemimpin. Karena kita telah mengabdikan diri kepada persekutuan ini, maka kita hendaknya melaksanakan yang telah kita janjikan.

47 Organisasi

Setiap kehidupan manusia memerlukan suatu organisasi. Sebaiknya mengikuti patokan-patokan tertentu yang menjadi pegangan. Apa lagi bila manusia bekerja bersama dan hidup bersama, peraturan bersama lebih dibutuhkan. Oleh karena itu, kita sebagai kongregasi merasa membutuhkan peraturan-peraturan yang muncul dari persekutuan kita sendiri demi kesejahteraan persekutuan kita. Peraturan-peraturan itu dapat diubah jika kepentingan persekutuan menghendakinya.

48 Konstitusi dan Statuta

Kongregasi menetapkan Konstitusi. Berdasarkan Konstitusi itu disusun Statuta Kongregasi dan Statuta Provinsi. Konstitusi, Statuta Kongregasi, dan Statuta Provinsi, semuanya merupakan Hukum Kongregasi sendiri. Hukum ini mengungkapkan semangat yang hendaknya kita hayati, tujuan yang kita kejar, dan butir-butir yang kita tetapkan yang menunjukkan cara-cara untuk mencapai tujuan itu.

49 Kepemimpinan Persaudaraan

Di dalam persekutuan kita, kita juga membutuhkan para bruder yang memimpin. Mereka hendaknya melak-sanakannya dalam semangat Yesus, yang berkata, "Aku datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani." (12)

50 Tugas Para Pemimpin

Para bruder yang bertugas memimpin diharapkan memberikan inspirasi dan dorongan, meningkatkan persatuan dan kerja sama, mengarahkan persekutuan dengan sarana organisasi dan peraturan yang tepat guna. Mereka diharapkan mendengarkan apa yang hidup di antara para bruder, memahami kesukaran-kesukaran dan kesedihan manusiawi, menunjukkan kesalahan, kekhilafan, dan kelemahan-kelemahan, bertindak tegas dan dengan kewibawaan bilamana diperlukan.

51 Kewajiban Setiap Bruder

Mereka yang memimpin memang mempunyai tugas khusus. Namun, tidak tepat jika kita mengalihkan tanggung jawab pribadi kita kepada mereka yang memimpin. Setiap bruder hendaknya memperhatikan kebahagiaan sesama brudernya. Semakin baik kita melaksanakan kerasulan ini di komunitas, kita akan semakin mampu menyebarkan kebahagiaan di luar komunitas.

52 Persekutuan Terbuka

Didukung oleh kesetiakawanan sebagai saudara di dalam persekutuan kita sendiri, kita berharap agar dalam hubungan dengan orang luar, kita merupakan sesama yang penuh kasih.

Kita membentuk persekutuan yang terbuka terhadap orang lain, terutama terhadap mereka yang kita layani, atau rekan sekerja, begitu pula para sanak saudara, kenalan, dan semua orang yang kita jumpai dalam berbagai situasi yang berbeda.

Sebagai persekutuan yang terbuka, kita juga berharap banyak belajar dari orang lain. Sebagai persekutuan yang terbuka, kita memperhatikan tanda-tanda zaman, memperjuangkan keadilan dan kebenaran, dan mengusahakan perdamaian. Sebagai persekutuan yang terbuka, kita secara aktif memperjuangkan ekumene, yang mengarah ke puncak persatuan semua orang dalam Kristus.

53 Menerima Tamu

Sebagai persekutuan terbuka, kita dipanggil untuk menerima tamu dengan murah hati. Para tamu hendaknya merasa kerasan tinggal bersama kita. Di samping itu, setiap komunitas juga berhak atas kele!uasaan pribadi. Di dalam rumah-rumah kita, bagian-bagian tertentu tetap hanya diperuntukkan bagi para bruder kita sendiri.

4. Ditopang oleh Allah

54 Iman

Iman adalah keajaiban yang mengagumkan, mencakup misteri kehidupan kita yang terdalam. Iman adalah keberanian untuk hidup bersama dengan misteri itu. Iman bukanlah hasil usaha kita sendiri, dan tak pernah dipaksakan.

Iman tumbuh dan berkembang karena rahmat Allah. Percaya akan Allah berarti - dalam arti yang sedalam-dalamnya- kita berani menyerah tanpa syarat kepada-Nya. Penyerahan ini berdasarkan kepercayaan yang tak terbatas serta didorong oleh kasih, karena la telah lebih dahulu mengasihi kita. "Allah adalah kasih. " (7) Kasih-Nya menopang kita dan seluruh ciptaan-Nya. Kasih-Nya merupakan dasar terdalam, misteri terdalam dari segala yang ada.

55 Allah di Dalam Hidup Kita

Dengan kemampuan kita sendiri, kita tak pernah dapat menjalin hubungan pribadi dengan Allah. Syukurlah bahwa Allah mewahyukan diri-Nya, sehingga kita boleh mengenal-Nya dalam iman. Dengan demikian, la memberi kita kemungkinan untuk mencapai-Nya dalam kehidupan kita di dunia ini. Ia mengundang kita untuk mengambil bagian dalam kehidupan-Nya.

Percaya akan Allah berarti kita melihat kehidupan biasa sehari-hari dalam terang yang baru; kita diberi kesempatan untuk menjalin hubungan kasih dengan Allah yang mahakasih.

Percaya akan Allah berarti kita mengalami kasih dan kesetiaan-Nya di dalam seluruh ciptaan dan di dalam kenyataan hidup biasa sehari-hari.

Percaya akan Allah berarti kita dapat menemukan Dia dalam mencintai sesama dan dalam mengalami kasih mereka.

Percaya akan Allah berarti kita akan sering mengalami kegelapan, namun kasih-Nya selalu menyertai kita.

56 Yesus Kristus

Pewahyuan kasih Allah yang paling utama yaitu Yesus Kristus. Dalam Dia, Allah yang tak terbatas telah datang di antara kita, dalam penjelmaan yang terbatas dan duniawi. Yesus Kristus itulah Allah beserta kita; Yesus Kristus itulah saudara kita, sama seperti kita dalam segala hal, kecuali dalam hal dosa.

57 Teladan dan Perhatian Utama-Nya

Di dalam Injil, kita dimungkinkan mengenal Yesus. Ia mengungkapkan kepada kita citra manusia yang memenuhi tugas yang diberikan oleh Allah secara sempurna. Ia mengajar kita mencintai seluruh ciptaan. Ia menjadi segala-galanya bagi semua orang. Ia memperhatikan kebutuhan manusia dan mempunyai perhatian utama bagi yang miskin dan yang berkekurangan. Ia, Putra Allah, membimbing kita kepada yang miskin dan yang berkekurangan, dan sebaliknya, mereka akan mengantar kita kepada Yesus Kristus, kepada Allah.

58 Akrab dengan Allah

Dengan berkata, "Aku dan Bapa adalah satu," (13) Yesus mengungkapkan kesatuan-Nya yang utuh dengan Bapa. Kita pun dapat mengalami keakraban dengan Allah yang penuh kasih dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita merindukan pengalaman nyata kehadiran Allah yang penuh kasih:

- bila kita berdoa;

- bila kita membuka diri terhadap Sabda-Nya dalam Kitab Suci;

- bila kita menerima sakramen-sakramen.

59 Doa

Perhatian terus-menerus terhadap doa bersama dan doa pribadi merupakan bagian hakiki dari kehidupan kita sebagai religius. Kita ingin menjadi orang yang akrab dengan Allah dan semakin menjalin seluruh kehidupan kita dengan saat-saat doa.

60 Terarah Kepada Allah

Dalam doa, kita mencari kasih dan rahmat Allah. Dalam doa, kita berharap semakin membuka diri terhadap kehendak-Nya, dan semakin mampu mem-bedakan gerakan-gerakan Roh.

Dalam doa, kita berusaha mengarahkan diri kepada kehendak-Nya bagi kita masing-masing dan bagi persekutuan kita.

61 Doa dan Kehidupan Kita Sehari-hari

Berdoa berarti berusaha mencari Allah dalam kasih. Usaha mencari Allah tak dapat dipisahkan dari ke-hidupan kita sehari-hari. Kita hanya dapat berdoa secara jujur kepada Allah Bapa "kita" kalau di dalam doa kita merasa dipersatukan dengan sesama kita, kalau kita bersedia melaksanakan iman kita terhadap Allah yang mahakasih di dalam kehidupan sehari-hari dengan bertindak positif bagi kebahagiaan sesama kita. Mencintai sesama merupakan wujud nyata cinta kita terhadap Allah. Doa yang jujur menuntut kasih yang jujur terhadap sesama, menuntut kasih dalam tindakan nyata. Dengan demikian, doa kita akan disuburkan oleh tugas pengutusan kita, dan akan mengobarkan semangat kerasulan kita.

62 Waktu untuk Berdoa

Betapa pun berat tugas kita dan dalam situasi bagai-mana pun, dalam hidup kita hendaknya disediakan saat-saat untuk penyadaran pribadi maupun bersama; saat-saat untuk beristirahat bersama dalam Kristus. Bila kita gagal memanfaatkan saat-saat demikian, kita akan kehilangan unsur pokok kehidupan kita sebagai religius. Akibatnya, kerasulan kita akan mengalami kerugian, karena hanya dalam Kristus kita mempelajari arti terdalam tentang menjadi manusia bagi orang lain.

63 Keteraturan dan Kesetiaan

Doa menuntut keberanian, kesetiaan, dan keteraturan. Doa menuntut kita untuk membebaskan diri dari serangkaian tugas sehari-hari, agar kita mempunyai kesempatan untuk berdoa. Doa kita akan sangat kecil nilainya jika kita hanya berdoa bila ada keinginan untuk itu. Oleh karena itu, perlu adanya ketetapan-ketetapan di dalam diri sendiri maupun di dalam persekutuan. Bukan hanya ketetapan-ketetapan saja yang penting, melainkan juga seluruh suasana di dalam komunitas hendaknya mendukung doa pribadi maupun doa bersama.

64 Doa Bersama

Doa bersama kita hendaknya dipersiapkan dengan baik, diungkapkan secara tepat, dan merupakan kenyataan hidup. Dalam persekutuan kita, kita berkumpul untuk berdoa bersama sekurang-kurangnya satu kali sehari. Melalui doa bersama, kita juga berharap untuk turut serta dalam doa persekutuan yang lebih besar, yakni doa Gereja. Dalam konteks ini juga, layaklah kita memberikan tempat yang utama kepada mazmur dan teks Kitab Suci lainnya dalam doa-doa kita. Kecuali itu, kita hendaknya tetap mengusahakan hubungan erat antara doa bersama dan kehidupan kita sehari-hari.

65 Doa Pribadi

Hendaknya, setiap hari kita menyediakan waktu yang cukup bagi doa pribadi dan meditasi. Doa pribadi bukan berarti bahwa doa kita harus selalu spontan dan diungkapkan dengan kata-kata yang sama sekali baru. Doa-doa yang sudah ada pun dapat membantu dan memberikan inspirasi, jika doa-doa itu diucapkan dengan penuh perhatian dan direnungkan, serta - jika perlu -disesuaikan dengan keadaan kita pribadi. Doa renungan pun memiliki makna yang hakiki bagi orang yang hidup aktif merasul. Bentuk doa yang terbaik adalah bentuk doa yang menghadirkan dan menyingkapkan Allah sendiri, mungkin berupa doa batin atau doa yang diucapkan, bacaan yang direnungkan, atau rasa kasih dan penyerahan yang mendalam.

66 Pertumbuhan dan Perkembangan

Seperti segala sesuatu yang hidup, kehidupan doa pun mengalami pertumbuhan dan perkembangan.Semakin dewasa kehidupan doa, semakin sedikit kata-kata yang dibutuhkan. Lama-kelamaan doa akan semakin berupa: hanya tinggal dalam kehadiran Allah melalui iman, harapan, dan kasih.

Kita akan mengalami Allah yang selalu hadir dalam kehidupan biasa sehari-hari, dalam setiap orang, dalam segala sesuatu. Kehidupan doa dan kehidupan sehari-hari sedikit demi sedikit semakin menyatu.

Kehidupan doa yang tumbuh, seperti halnya setiap pertumbuhan memerlukan pemurnian yang menya-kitkan. Kita harus meninggalkan diri kita sendiri agar mencapai persatuan dengan Allah dan dengan sesama kita. Kehidupan doa kita hanya mungkin tumbuh dan berkembang, jika dalam kehidupan sehari-hari kita tumbuh dan berkembang dalam cinta kasih.

67 Waktu Doa yang Lebih Lama

Hendaknya kita berusaha menyediakan waktu yang lebih lama untuk doa dan refleksi dalam hidup kita. Saat-saat doa amat sangat penting bagi pemahaman diri serta bagi hidup kita sebagai religius, bagi peningkatan hubungan pribadi kita dengan Allah, bagi keterbukaan kita terhadap Roh Allah, dan bagi pen-dalaman kepedulian kerasulan kita.

Di setiap provinsi hendaknya dibuat perencanaan retret tahunan dan kesempatan-kesempatan lainnya untuk mengadakan refleksi yang lebih lama . (e)

68 Sabda Allah Dalam Kitab Suci

Kita ingin membuka hati dan budi kita terhadap Sabda Allah dengan sering dan secara teratur membaca dan merenungkan teks-teks Kitab Suci. Dalam Kitab Suci, kita membaca bagaimana Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai Allah yang hadir di dunia kita dan dalam sejarah umat manusia, yaitu bagaimana Dia me-wahyukan diri-Nya.

Perjanjian Lama mengisahkan sejarah suatu bangsa bersama Allah mereka, dan Allah ini disebut Yahwe, Al lah bersama umat-Nya.

Dalam Perjanjian Baru, Persekutuan Umat Kristen Perdana memberikan kesaksian tentang Yesus dari Nazaret sebagai Mesias (Penyelamat), Kristus (Yang Terurapi), Sabda yang telah menjadi daging, citra Allah yang hidup, Putra yang berdoa kepada Bapa dan mengajar kita bagaimana kita harus berdoa, manusia yang menjadi segala-galanya bagi semua orang, dan pewarta Kabar Gembira. (f)

69 Aturan Hidup yang Paling Asasi

Kabar Gembira Yesus merupakan Aturan Hidup kita yang paling asasi. Sabda dan teladan-Nya kita jadikan pedoman hidup kita. Kita berhasrat tumbuh ke arah Dia, semakin menimba hidup dari hidup-Nya.

Jadi, kita berharap semakin dapat mengatakan, "... bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristuslah yang hidup di dalam daku."(14)

70 Ekaristi

Ekaristi merupakan perayaan tertinggi persatuan kita dengan Yesus Kristus, perayaan tertinggi cinta kasih. Ekaristi juga merupakan perayaan persatuan kita seorang dengan yang lain dan dengan semua orang dalam Dia.

"Bukankah roti yang kita pecahkan adalah persekutuan dengan tubuh Kristus? Karena roti itu satu, maka kita sekalipun banyak menjadi satu tubuh, karena kita semua mendapatbagian dalam roti yang satu."(15) (g)

71 Persembahan diri

Kesatuan yang paling luhur tercapai dengan penye-rahan diri yang paling luhur pula. Siapa yang mengharapkan bersatu dengan orang lain, ia harus berani mem-berikan diri kepada orang lain. Yesus Kristus telah berbuat demikian, dan dalam Ekaristi, kita memperingati persembahan diri-Nya dengan penuh syukur. Dengan penuh syukur, kita memperingati hidup, wafat, dan kebangkitan-Nya. Dalam pera-yaan Ekaristi, kita mengungkapkan keinginan kita untuk mengikuti teladan Yesus, dan karena-Nya ingin mempersembahkan diri kita dalam persembahan kasih terhadap sesama kita. Dengan demikian, Ekaristi tetap berhubungan erat dengan kehidupan kita sehari-hari. Oleh karena itu, kita berusaha sungguh-sungguh untuk sedapat mungkin mengambil bagian dalam perayaan Ekaristi setiap hari.

72 Kesalahan dan Pengampunan

Betapa pun baik maksud-maksud kita, kita masing-masing akan mengalami kegagalan dalam mencapai cita-cita kita. Kesalahan pribadi dan kesalahan bersama merupakan kenyataan hidup kita yang berat. Oleh karena itu, kita memberikan perhatian terhadap pemeriksaan batin, terhadap perayaan-perayaan yang mengutamakan pengakuan kesalahan (dosa) dan kesediaan untuk melaksanakan tobat; sering merayakan sakramen pengampunan (rekonsiliasi) dengan cara-cara yang sungguh bermanfaat. Insaf akan semuanya ini, baiklah menyadari bahwa Yesus Kristus mengajar kita berdoa: "...ampunilah kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami." (16)

Kita hendaknya berkali-kali dengan murah hati mem-berikan pengampunan yang seorang kepada yang lain dan kepada mereka yang telah melukai kita. (h)

73 Kepercayaan

Kita tetap menjadi orang yang tak memenuhi harapan, namun kita dapat selalu peraya akan kasih Allah yang tak terbatas. Ia mencintai kita lebih dahulu, dan tetap mencintai kita. Kita selalu dapat menyerahkan harapan kita kepada-Nya, bahkan juga pada saat-saat suara hati kita mempersalahkan kita, "... sebab Allah lebih besar daripada hati kita serta mengetahui segala sesuatu." (17)

74 Sakramen Pengurapan Orang Sakit

Jaminan yang kita berikan bahwa para bruder yang sakit pun menerima dukungan rohani yang mereka butuhkan, merupakan kesaksian cinta kasih persaudaraan kita. Bagi mereka yang sakit keras, Sakramen Pengurapan Orang Sakit dapat mempunyai arti yang sangat besar.

75 Maria

Pewahyuan cinta kasih Allah yang paling mulia yaitu Yesus Kristus. Di antara semua orang, Marialah yang secara paling erat dipersatukan dengan Yesus. Dialah ibu-Nya, dan disebut Ibu semua orang beriman. Hidup kita sebagai bruder berada di bawah perlindungan istimewa Bunda Maria. Hal ini hendaknya diwujudkan dalam doa dan refleksi kita. Hari-hari pestanya, terutama pesta sebagai yang Terkandung Tak Bernoda hendaknya dirayakan secara mesra oleh persekutuan kita. Kita memandang dan merenungkan kehidupannya, serta memohon pertolongannya di dalam doa-doa pribadi maupun doa bersama. Di samping doa-doa yang lain, doa rosario itu sangat bernilai. Ada banyak cara untuk mengungkapkan ikatan kita dengan Maria. Namun, ciri khas kongregasi kita yaitu kita masing-masing mem-berikan tempat yang utama kepada Bunda Tuhan dalam hidup kita.

Sebagai orang yang merasul, kita juga ingin men-dapatkan inspirasi dari Maria mengenai pelayanan kasih kita terhadap orang lain, kepekaan dan kepedulian terhadap kebutuhan-kebutuhan manusia, dan keterlibatan kita di bidang keadilan dan kebenaran. (i)

5. Pembaktian Diri

76 Sebagai Bruder

Sebagai bruder dalam kongregasi ini, kita sepenuhnya membaktikan diri demi pelayanan kepada Allah dan demi pelayanan kepada kedatangan Kerajaan-Nya. Dalam kasih, kita membaktikan diri kita kepada Dia yang penuh kasih. Dalam Dia, kita membaktikan diri kita seorang kepada yang lain dan kepada semua orang.

77 Triprasetia

Kita berusaha mengungkapkan pembaktian ini dalam keseluruhan hidup kita. Kita melaksanakannya dalam semangat Injil, antara lain dengan menjanjikan diri kita untuk hidup menurut triprasetia: ketaatan, kemiskinan, dan hidup wadat demi Kerajaan Allah.

78 Semua Segi Kehidupan

Penghayatan hidup bakti kita, dan penghayatan tri-prasetia secara konsekuen, akan meresapi semua segi kehidupan kita, dan secara langsung terkait dengan semangat kerasulan kita.

79 Ketaatan Injili

Kita menjadi bruder, karena kita ingin mengabdikan diri sepenuhnya demi pelayanan kepada Allah dan demi pelayanan kepada kedatangan Kerajaan-Nya.

Dengan meneladan Yesus, yang "mengambil rupa se-orang hamba, ... dan taat sampai mati." (18), kesediaan hidup kita akan berupa kesiapsediaan untuk mendengarkan dan taat. Kita berusaha mengenal kehendak Allah dalam keinginan persekutuan kita, dalam situasi nyata kehidupan kita, dan dalam orang-orang yang membutuhkan kita.

80 Siap Sedia Secara Total

Kita bercita-cita menyediakan diri sepenuhnya menurut teladan Yesus: semua kemampuan fisik dan mental, bakat dan keahlian, waktu dan tenaga, inisiatif, kreativitas, dan pengalaman hidup, kesukaan dan keinginan mengenai corak dan tempat kerja kita. Dengan pengingkaran diri dalam ketaatan seturut teladan Yesus, kita ingin mencapai kehidupan manusiawi yang mendalam dan berbuah melimpah.

"Jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu bijisaja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah." (19)

81 Sesuai dengan Prasetia Kita

Melalui prasetia ketaatan, kita mewajibkan diri untuk sebaik mungkin menanggapi apa yang diminta kepada kita oleh para pemimpin dan penguasa kongregasi yang sah menurut Konstitusi kita.

Sesuai dengan prasetia ketaatan, kita berhasrat dalam iman mendengarkan tuntutan dan permintaan Konstitusi, Statuta Kongregasi, Statuta Provinsi, dan Peraturan-Peraturan Lokal.

Sebagai anggota kongregasi ini, kita tunduk kepada panguasa tertinggi Gereja, seperti ditentukan di dalam Kitab Hukum Kanonik. (j)

82 Ketaatan dan Kerasulan

Ketaatan yang dihayati dengan setia akan menciptakan kemungkinan yang terbaik bagi pengabdian dalam kerasulan setiap bruder dan dalam kerasulan per-sekutuan seluruhnya.

83 Ketaatan terhadap Pribadi

Dengan suka rela menempatkan diri dalam ketaatan di bawah kuasa sesama bruder, dapat mempunyai konsekuensi-konsekuensi yang berat bagi kehidupan kita, yang kadang-kadang menuntut banyak dari kita. Hal ini hanya mungkin jika dalam iman, kita selalu terarah kepada kehendak Allah. Ketaatan yang dihayati secara demikian, dapat menghasilkan kebebasan dan kesiapsediaan penuh sukacita dalam kehidupan pribadi dan di dalam kehidupan persekutuan seluruhnya.

84 Inisiatif dam Mencari yang Paling Tepat

Prasetia ketaatan tidak meminta kita untuk meng-ingkari suara hati atau tanggung jawab kita. Hal ini tidak mungkin dan juga tidak dikehendaki. Tidak pernah dimaksudkan agar kita menjadi orang yang pasif, tanpa inisiatif, dan tanpa usaha mencari yang paling tepat. Dengan terus-menerus taat, kita hendaknya juga terus-menerus ikut bertanggung jawab. Dengan demikian, ketaatan kita akan menjadi suatu cara untuk membantu memberikan sumbangan - sebagai orang yang benar-benar bebas - bagi kesejahteraan umat manusia dan kesejahteraan persekutuan kita sendiri.

85 Para Pemimpin

Mereka yang memimpin hendaknya berusaha dalam ketaatan dan dalam kesediaan untuk mendengarkan dengan setia - peka terhadap bimbingan Roh Kudus.

86 Kemiskinan Injili

Kita menjadi bruder, karena kita ingin mengabdikan diri sepenuhnya demi pelayanan kepada Allah dandemi pelayanan kepada kedatangan Kerajaan-Nya. Yesus Kristus mewartakan Kerajaan itu. Di dalam Injil la berkata, "Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah. n (20)

Berulang-ulang la menunjukkan perhatian yang istimewa kepada yang miskin. Ia memberikan peringatan terhadap penimbunan harta benda ... "di mana ngengatdan kara tmerusakkannya (21) dan la sendiri hidup dalam kesederhanaan dan keugaharian.

87 Umat Kristen Perdana

Tentang umat Kristen perdana yang berhasrat hidup dalam semangat sabda dan teladan Yesus, dikatakan bahwa "mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorang pun yang berkata bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri." (22)

88 Mengikuti Kristus

Seperti umat Kristen perdana, kita juga berhasrat hidup dalam suatu persekutuan sambil berbagi milik bersama. Seperti mereka, kita ingin hidup sesuai dengan sabda dan teladan kemiskinan Kristus. Baik sebagai perseorangan maupun sebagai persekutuan, dalam hal pengunaan uang dan harta milik, serta segalanya yang kita terima atau kita hasilkan, kita serahkan kepada persekutuan demi pertumbuhan Kerajaan Allah, demi dunia baru-Nya, yaitu dunia "kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita." (1)

89 Maksud Prasetia Kemiskinan

Kita berprasetia kemiskinan. Hal ini berarti: kita menggantungkan diri kepada kongregasi dan kepada penguasa kongregasi dalam penggunaan serta pengaturan uang dan harta milik. (k) Dalam semangat itulah pola hidup kita sebagai pribadi dan sebagai persekutuan akan berupa pola hidup ugahari. Dalam semangat itulah kita memiliki suatu perhatian istimewa terhadap yang miskin dan yang berkekurangan dalam hal harta dan uang.

Dalam semangat itu juga kita terarah kepada kebenaran, pertolongan bagi orang yang membutuhkan, dan kita menentang pemerasan tenaga serta struktur ekonomi yang tidak adil.

90 Keugaharian

Sebagai pribadi dan sebagai persekutuan, kita ingin menghindari segalanya yang dapat dipandang sebagai nafsu mengejar kekayaan, kekuasaan, dan kehormatan atau gengsi, serta keinginan mencari keuntungan dan milik.

Perlengkapan rumah, makanan, dan hiburan, singkatnya seluruh hidup kita sehari-hari hendaknya meng-ungkapkan kesederhanaan dan keugaharian. Pakaian kita pun hendaknya merupakan bukti ke-sederhanaan dan keugaharian kita.

Di dalam masyarakat, kita dikenal sebagai bruder dengan tanda pengenal kongregrasi kita. (e)

91 Kesetiakawanan

Kita tidak bermaksud hidup dalam kemiskinan harta dan sangat berkekurangan. Tetapi sebagai suatu persekutuan yang merasul, juga dalam penggunaan dan pengelolaan harta benda kita, kita sungguh-sungguh terarah kepada kesetiakawanan dengan orang miskin dan yang berkekurangan. Dalam semangat Yesus Kristus, kita ingin memiliki keterbukaan hati dan budi bagi kebutuhan sesama kita, berbagi dengan mereka, dan tidak memperkaya diri dengan mengorbankan mereka.

92 Menjadi Orang Bebas

Dengan hidup dalam keugaharian dan kesetia-kawanan, sebagai orang yang benar-benar bebas, kita ingin tumbuh dan mengatasi kerinduan akan hal-hal duniawi belaka dan yang bersifat sementara. Melalui kesediaan kita untuk lepas bebas dari kelekatan pada kekayaan materi dan penggunaan hal-hal duniawi dengan penuh-hormat dan sukacita, kita membantu membangun dunia Kristiani dan memberikan kesaksian akan adanya nilai-nilai yang lebih luhur.

93 Tanggung Jawab Pribadi

Dengan menggantungkan diri pada kongregasi dalam penggunaan uang dan milik, tidak berarti bahwa kita menggeser tanggung jawab pribadi kepada mereka yang memimpin. Kita masing-masing sebagai pribadi bertugas membebaskan diri dari nafsu terhadap uang dan milik. Jika kita masing-masing secara pribadi berusaha membebaskan diri dari nafsu menimbun kekayaan duniawi bagi diri kita sendiri, maka hal ini akan sesuai dengan semangat persekutuan kita.

94 Hidup Wadat yang Dibaktikan demi Kerajaan Allah

Kita menjadi bruder, karena kita ingin mengabdikan diri sepenuhnya demi pelayanan kepada Allah dan demi pelayanan kepada kedatangan Kerajaan-Nya.

Kristus menasihatkan untuk hidup wadat demi Kerajaan Allah kepada siapa pun yang mampu menerimanya. Kita percaya, dan juga ingin menghayatinya, bahwa seseorang dapat diilhami oleh Allah, dan oleh kedatangan Kerajaan-Nya, sedemikian rupa sehingga ia ingin membaktikan diri dengan hidup wadat dan mengikat diri dengan prasetia.

95 Dipersatukan dengan Kristus

Kristus merupakan teladan kita. Dengan hidup wadat, seluruh diri-Nya dipersembahkan kepada Bapa dan terarah kepada sesama. Dalam kasih, la mengosongkan diri secara total, menjadi segalanya bagi semua orang.

Diilhami oleh-Nya dan secara penuh dipersatukan dengan-Nya, kita juga ingin hidup wadat kita ditandai oleh kasih. Dalam kasih, kita ingin terarah kepada Allah, kepada sesama bruder kita, kepada sanak saudara dan kenalan, kepada mereka yang kita layani, dan kepada semua yang kita jumpai. Kita terutama terarah dalam kasih kepada yang miskin dan, yang berkekurangan, kepada orang yang oleh Yesus sendiri juga diberi perhatian istimewa.

96 Menerima Konsekuensi

Hidup wadat kita demi Kerajaan Allah hendaknya ditandai oleh keugaharian penuh hormat dan pe-ngendalian diri secara bijaksana, seperti dituntut oleh kodrat hidup kita dan oleh cara hidup yang telah kita pilih.

97 Saling Mendukung

Sebagai bruder, kita hendaknya saling menolong dalam menghayati hidup wadat kita. Kita dapat saling membantu dengan saling menerima dan dengan saling mengenal perasaan, pikiran, dan sikap, dengan kehangatan hati seorang terhadap yang lain, dengan berusaha menciptakan suasana yang menjadikan orang lain dapat merasa kerasan, dengan memberikan nasihat dan dukungan dengan penuh pengetian, atau - sejauh hal ini merupakan tanggung jawab kita - dengan memberikan bimbingan terhadap sesama bruder, dengan menciptakan suasana di dalam persekutuan kita sendiri untuk saling memberikan dan menerima cinta kasih. Dalam hal ini, doa dan laku tapa yang sehat amat sangat kita perlukan.

98 Demensi Kerasulan

Kita juga ingin membantu menghayati hidup wadat yang subur dan berfaedah, dengan saling memberikan inspirasi dan dukungan dalam pengabdian kerasulan kita. Hidup wadat demi Kerajaan Allah tidakdapat dipisahkan dari pengabdian kita terhadap Kerajaan tersebut. Kebebasan karena hidup wadat yang dibaktikan, serta kesepian yang kadang-kadang kita alami karena gaya hidup ini, dapat memperkaya dan menyuburkan kerasulan kita. Dalam persatuan dengan Kristus, kita dibimbing untuk dapat memperhatikan banyak orang secara peka dan penuh kasih, terutama mereka yang kurang mengalami cinta kasih.

99 Hidup Dalam Perkembangan

Dalam pengucapan prasetia kita, kita mengungkapkan bahwa sebagai orang bebas, kita menyediakan diri seutuhnya. Tentu saja, ini tidak berarti bahwa pada saat itu pula kita sudah seutuhnya. Tugas kita bertumbuh ke arah itu melalui semua kesukaran dan kekecewaan. Kita ingin mencapai cita-cita ini.

Dengan sepenuh daya, langkah demi langkah, dengan mencoba dan gagal, kita berusaha mencapainya. Dengan demikian kita berusaha tumbuh dalam kasih, dengan setia dan penuh harapan, dan karena itu kita akan mengalami sukacita persatuan kita dengan Kristus, dengan sesama bruder, dan dengan banyak orang lain.

BAGIAN II

PERTUMBUHAN DALAM KONGREGASI

6. Masa Persiapan dan Novisiat

100 Pengantar

Kongregasi harus menjamin bahwa pembinaan para calon bruder memadai, terarah, dan tepat guna, serta diintegrasikan dengan kebudayaan. Untuk itu, pengaruh para bruder yang secara istimewa diserahi tugas pembinaan, dan pengaruh para bruder yang hidup bersama dengan para calon, sungguh sangat penting. Semangat seluruh persekutuan kita serta teladan yang kita berikan juga mempunyai pengaruh yang amat besar.

Para calon dapat mengharapkan bantuan doa-doa kita. Pertumbuhan mereka dalam kongregasi hendaknya dibantu oleh kasih persaudaraan kita. Hendaknya dijelaskan dengan cermat dan penuh kesabaran, sesuaikah tujuan dan cita-cita mereka dengan tujuan dan cita-cita kita, dan cocokkah mereka untuk hidup dalam kongregasi kita.

101 Masa Persiapan

Barang siapa merasa terpanggil untuk turut serta hidup dalam kongregasi kita, harus menempuh masa persiapan, sebelum diterima di novisiat. Selama masa persiapan ini calon mendapat kesempatan untuk lebih mengenal kongregasi, dan kongregasi berkesempatan untuk mengenalnya. Sesudah masa persiapan, calon yang diterima memulai masa novisiat. Dengan menjadi novis, mulailah kehidupan di dalam kongregasi kita.

102 Program Pembinaan

Di samping pendidikan teoritis yang mendalam, pengantar praktis mengenai hidup dan spiritualitas kita perlu diberikan. Program pembinaan hendaknya menjelaskan cara hidup kita, yang dalam iman, harapan, dan kasih, kita berhasrat menjadikan hidup kita lebih bernilai sebagai manusia, sebagai orang Kristen, dan sebagai bruder.

Pembinaan para calon anggota kongregasi kita khususnya bertujuan untuk :

- Menolong para calon untuk memperdalam dan memperkaya sikap dasar mereka.

- Menolong para calon untuk merefleksikan per-tanyaan-pertanyaan pokok mengenai masa depan mereka serta kemungkinan adanya panggilan untuk hidup sebagai religius. Refleksi ini hendaknya juga diuji dalam kehidupan sehari-hari .

- Melatih kepekaan para calon terhadap cita-cita para pendiri dan semangat kongregasi kita.

- Memberikan kesempatan kepada kongregasi maupun calon untuk melihat dengan jeli serta memper-timbangkan panggilan calon, supaya dapat memutuskan secara bertanggung jawab.

103 Pemimpin Novis

Dengan persetujuan para penasihatnya, Pemimpin Provinsi mengangkat Pemimpin Novis. Ia harus sudah berprasetia seumur hidup, dan diangkat untuk jangka waktu tiga tahun. Ia dapat diangkat kembali. (m)

104 Jangka Waktu Novisiat

Agar sah, masa novisiat berlangsung selama dua belas bulan, dilaksanakan secara terus-menerus atau terputus-putus di rumah novisiat. Sesudah periode ini, masa novisiat dapat dilanjutkan selama beberapa waktu, tetapi biasanya jumlah waktu seluruhnya tidak boleh melebihi dua tahun.

Jika timbul keraguan mengenai kecocokan seorang novis untuk berprasetia, Pemimpin Provinsi dapat memperpanjang masa novisiat sampai enam bulan. (n)

105 Petunjuk dan Peraturan

Sehubungan dengan pendirian dan pengorganisasian novisiat, Dewan Umum dapat memberikan petunjuk dan peraturan-peraturan umum, yang berlaku bagi semua provinsi.

Peraturan-peraturan lebih lanjut dibuat oleh provinsi masing-masing, dan memerlukan persetujuan Dewan Provinsi. Dalam peraturan-peraturan ini harus diperhitungkan situasi Gereja dan situasi sosial di dalam provinsi.

106 Penerimaan Calon

Para calon diterima masuk novisiat oleh Pemimpin Provinsi dengan persetujuan para penasihatnya dan sesuai dengan petunjuk-petunjuk Hukum Kanonik. (o)

107 Rumah Novisiat

Dalam hal pendirian, pemindahan, atau penutupan rumah novisiat, harus diikuti prosedur yang ditentukan oleh Hukum Kanonik. (p)

7. Prasetia dan Pembinaan Berkesinambungan

108 Prasetia

Pada waktu berprasetia, kita menanggapi pengalaman dipanggil Allah, dan kita mengikat diri sebagai bruder kepada cita-cita injili persekutuan ini. Cita-cita itu kita jadikan cita-cita kita sendiri. Dengan berprasetia, kita membaktikan diri kita seluruhnya kepada Allah dan kepada kedatangan Kerajaan-Nya. Dengan menerima Injil Yesus Kristus sebagai pedoman hidup kita yang terutama dan tertinggi, kita berjanji untuk menghayati hidup kerasulan bersama dengan sesama bruder, dalam semangat Yesus, dan sesuai dengan Konstitusi kongregasi kita.

109 Rumusan Prasetia

Saya, Bruder......

berhasrat membaktikan diri kepada Allah, kepada kedatangan Kerajaan-Nya, dan kepada kebahagiaan sesama manusia, sebagai anggota Kongregasi Para Bruder Santa Perawan Maria yang Terkandung Tak Bernoda.

Saya berjanji kepada Allah untuk hidup sebagai religius dalam ketaatan, kemiskinan, dan wadat, sesuai dengan Konstitusi kongregasi kami.

Saya akan menghayati janji ini selama ... (3 tahun/seumur hidup saya)...

Saya minta kepada sesama bruder saya, sudilah me-nerima saya dengan cinta kasih dalam persekutuan para bruder, dan saya memohon kepada Allah, semoga la berkenan melimpahkan rahmat-Nya agar saya menjadi anggota yang baik dalam persekutuan ini.

Saya memohon, sudilah Bruder ... (Pemimpin Umum/selaku Utusan Pemimpin Umum)... menerima prasetia saya.

(Penerimaan)

Selaku Pemimpin Umum (selaku Utusan Pemimpin Umum) saya menerima prasetia Anda, dan saya me-nyatakan bahwa Anda telah diterima dalam persekutuan kami (selama 3 tahun/seumur hidup Anda).

Semoga Allah menganugerahi Anda kebahagiaan, dan Anda membahagiakan orang lain.

110 Prasetia Sementara

Sesudah masa novisiat, dan sebelum prasetia seumur hidup, berlangsung masa prasetia sementara. Barang siapa mengikat diri dengan triprasetia sementara, ia bermaksud kelak mengikat diri seumur hidup; tetapi, baiklah ia pada permulaan mengikat diri hanya untuk sementara. Selama masa prasetia sementara, panggilan hidup di dalam kongregasi kita dapat dimantapkan. Dapat juga menjadi jelas, bahwa bagaimana pun ia lebih baik memilih panggilan hidup yang lain.

111 Masa Prasetia Sementara

Masa prasetia sementara berlangsung paling sedikit tiga tahun, paling lama enam tahun. Jangka waktu ini ditentukan oleh Kapitel Provinsi. Jika dikehendaki, Pemimpin Provinsi dengan persetujuan para pena-sihatnya dapat memperpanjang jangka waktu yang telah ditentukan bagi bruder tertentu; tetapi, seluruh masa prasetia sementara tidak boleh melebihi sembilan tahun.

Jika jangka waktu prasetia sementara yang dijanjikan sudah berakhir, maka bruder yang dengan bebas meminta, dan dinilai cocok, diterima untuk memper-baharui prasetia sementara atau untuk prasetia seumur hidup. Jika tidak diterima, ia harus meninggalkan kongregasi. (q)

112 Penerimaan

Penerimaan untuk prasetia sementara maupun prasetia seumur hidup hendaknya diberikan oleh Pemimpin Provinsi dengan persetujuan para penasihatnya. Untuk penerimaan prasetia seumur hidup harus ada pengesahan dari Pemimpin Umum dengan persetujuan para penasihatnya.

113 Pemisahan dari Tarekat

Prosedur untuk pindah tarekat, pemisahan dari tarekat (eksklaustrasi), dan dalam perkara pemutusan keterlibatan dengan kongregasi, harus mengikuti ke-tetapan Hukum Kanonik. (r)

114 Dukungan Persekutuan

Dengan menerima prasetia seorang bruder, sebagai kongregasi, kita berjanji akan mendukungnya dalam segala hal mengenai penghayatan panggilannya.

115 Pembinaan Berkesinambungan

Semestinya para bruder muda membutuhkan bimbingan dan pengawasan. Pembinaan secara sistematis dan terarah harus dilanjutkan selama beberapa tahun sejak ia diterima menjadi anggota kongregasi. Pembinaan berkesinambungan ini hendaknya mendapat perhatian istimewa. Dalam kehidupan komunitas sehari-hari maupun dalam kegiatan kerasulan, bruder muda dapat mengandalkan bantuan dari mereka yang memimpin, dari sesama bruder yang hidup bersama dia, dan dari semangat yang terpancar dari kehidupan kita semua. Kekuatan persekutuan merasul dan persekutuan persaudaraan kita juga ditentukan oleh keakraban kita dengan para bruder muda.

Tidak hanya selama tahun-tahun pembinaan, melainkan seumur hidup kita, kita hendaknya terbuka terhadap perkembangan, pembinaan, dan pendalaman arti hidup kita. Sebagai pribadi dan sebagai komunitas, kita hendaknya mengusahakan dengan banyak cara. Hal ini pun merupakan ungkapan kesetiaan terhadap panggilan kita. Panggilan kita menuntut agar kita terus belajar dan melatih diri demi tugas kita, seirama dengan perkembangan-perkembangan dalam Gereja dan masyarakat, terbuka bagi tanda-tanda zaman, dan terus-menerus memperkembangkan kehidupan rohani kita.

116 Tetap Setia Seumur Hidup

Pada saat berprasetia, kita berjanji untuk setia, yaitu setia pada saat-saat yang baik, dan setia pada saat- saat yang buruk.

Akan ada hari-hari baik sehingga kita merasa bahagia di dalam persekutuan persaudaraan kita dan di dalam mengejar cita-cita kita.

Akan ada juga hari-hari berat yaitu pada waktu kita hanya memiliki gambaran yang kabur mengenai cita-cita kita.

Dalam hidup kita, kita masing-masing pasti mengalami kekecewaan. Keterbatasan dan ketidaksempurnaan manusiawi dapat sangat terasa, yaitu keterbatasan orang lain dan keterbatasan kita sendiri.

Kehidupan biasa sehari-hari dapat melelahkan dan membosankan, seolah-olah tiada harapan untuk per-tumbuhan lebih lanjut. Allah dan sesama kita nampak dan terasa sangat jauh. Singkatnya, salib dan penderitaan akan memasuki hidup kita.

Pada waktu itu, kita hendaknya sadar, betapa pun aneh kedengarannya, penderitaan sungguh dapat memper-dalam kebahagiaan kita, dan dapat sungguh membuka hati kita untuk mencintai. Penderitaan yang ditanggung dengan baik, semakin mendekatkan kita dengan Allah dan sesama. Yesus sendirilah teladan kita. Pada hari-hari yang buruk la tetap setia kepada tugas-Nya, dan kepada panggilan-Nya: "Taat sampai mati, bahkan mati di salib." (23)

Kita juga melihat kesetiaan dalam kehidupan Maria, yang dalam sukacita penuh kesetiaan melagukan Magnificat-nya, dan yang dalam kegelapan penderitaan, berani berdiri di dekat salib.

117 Rasa Syukur

Menjadi religius merupakan anugerah bagi kita. Dalam iman, harapan, dan kasih, kita dapat menghayati cita-cita bahwa kongregasi kita merupakan Gereja. Allah memanggil kita kepada kehidupan ini. Ia menjadikan kita mampu menanggapi panggilan-Nya.

"Dalam Dia yang menguatkan kita," (24) kita meng-arahkan hidup kita kepada nasihat-nasihat Injil. Cara hidup yang dipilih oleh Yesus Kristus, kita jadikan cara hidup kita sendiri. Perbuatan-perbuatan manusia akan selalu tidak memadai dan tidak sempurna, namun kita merasa bahwa kita ditatang olehtangan kebapaan Al lah. Kita sebenarnya tahu bahwa kita sedang dalam perjalanan menuju ke kepenuhan akhir. Oleh karena itu, rasa syukur dapat menambah keindahan dan kecemerlangan hidup kita, yaitu rasa syukur bahwa kita manusia, bahwa kita orang Kristen, bahwa kita religius.

BAGIAN III

KEPEMIMPINAN DAN PENGELOLAAN

8. Kapitel Umum

118 Kapitel Umum

Kapitel Umum mempunyai kekuasaan tertinggi dalam kongregasi. Kapitel Umum mewakili kongregasi secara keseluruhan selama bersidang, dan memegang kepemimpinan kongregasi secara istimewa, tanpa mengurangi apa pun kepemimpinan biasa Dewan Umum. Pemimpin Umum menjadi ketua Kapitel Umum. (s)

119 Tugas Kapitel Umum

Kapitel Umum bertugas memeliharawarisan kongregasi agar tetap hidup, serta memajukan pembaharuan yang tepat. Kapitel Umum memberikan pelayanan akan kebutuhan spiritual dan materiel kongregasi, dan membuat peraturan-peraturan yang mengikat seluruh kongregasi.

Kapitel Umum memilih Dewan Umum.

Semakin baik sidang-sidang kapitel dipersiapkan dan semakin sungguh mereka yang berkepentingan melibatkan diri, hasil sidang kapitel akan semakin baik.

120 Kapitel Umum diadakan setiap enam tahun. Panggilan sidang diurus oleh Pemimpin Umum, paling lambat enam bulan sebelum masa jabatannya berakhir.

121 Semua anggota Kapitel Umum diundang secara tertulis. Yang tidak hadir kehilangan hak suara mereka. Kapitel Umum hanya' dapat dibuka dan secara sah bersidang, jika paling sedikit dua pertiga dari jumlah anggota hadir.

122 Di dalam Statuta Kongregasi ditentukan hal-hal yang hendaknya dipertimbangkan pada kapitel enam tahunan dengan memperhatikan Hukum Kanonik.

123 Para Anggota

Kapitel Umum menentukan cara menyusun ke-anggotaan kapitel berikutnya. Jumlah anggota vang dipilih harus melebihi jumlah anggota karena jabatan.

Anggota kapitel karena jabatan yaitu para anggota Dewan Umum dan para Pemimpin Provinsi.

Anggota Kapitel Umum yang dipilih harus sudah ber-prasetia sekurang-kurangnya tiga tahun.

124 Kapitel Umum bersidang secara sah, segera sesudah ketua menyatakannya dibuka. Kapitel dibubarkan pada waktu - setelah selesai acara sidang yang ditentukan - ketua menyatakan kapitel ditutup dengan persetujuan dari mayoritas mutlak anggota kapitel.

125 Kapitel Luar Biasa

Kapitel Umum Luar Biasa harus diselenggarakan, apabila:

- Kapitel Umum sendiri memutuskannya; lebih dari separo jumlah bruder memintanya;

- Dewan Umum memutuskannya karena alasan-alasan yang penting atau mendesak.

Dalam semua hal tersebut di atas, Pemimpin Umum hendaknya mengirimkan undangan pada waktunya. Para anggota kapitel harus dipilih sesuai dengan per-aturan yang disesuaikan dengan situasi, tetapi tidak boleh terjadi penyimpangan yang tidak perlu dari peraturan yang berlaku.

126 Penyimpangan dari Keputusan

Dewan Umum terikat pada keputusan-keputusan Kapitel Umum, kecuali kalau dalam penilaian Dewan Umum ada alasan-alasan yang berat, yang tidak dilihat oleh kapitel sebelumnya.

Penyimpangan dari keputusan-keputusan yang diambil, harus dipertanggungjawabkan oleh Dewan Umum pada Kapitel Umum berikutnya.

9. Dewan Umum

127 Susunan

Dewan Umum terdiri dari Pemimpin Umum dan para penasihatnya. Jumlah penasihat ditentukan oleh Kapitel Umum, tetapi hendaknya paling sedikit tiga orang dan paling banyak enam orang. Pemimpin Umum atau Vikarisnya bertugas mewakili Kongregasi dalam perkara-perkara resmi.

128 Pemimpin Umum

Pemimpin Umum dipilih oleh Kapitel Umum untuk jangka waktu enam tahun dan dapat dipilih hanya sekali lagi untuk masa jabatan enam tahun berikutnya.

129 Untuk memenuhi syarat sebagai Pemimpin Umum, seorang calon harus sudah berprasetia seumur hidup sekurang-kurangnya sepuluh tahun.

130 Untuk dapat dipilih menjadi Pemimpin Umum, seorang calon harus mendapatkan dua pertiga dari jumlah suara yang sah yang diberikan oleh para anggota yang hadir dan berhak, tanpa mengurangiapa yang ditetapkan dalam artikel 128.

Mengenai prosedur pemilihan, hendaknya diperhatikan:

Jika pada pemungutan suara yang pertama pemilihan Pemimpin Umum tak ada bruder yang menerima dua pertiga dari jumlah suara, pemungutan suara yang kedua harus dilaksanakan dan jika perlu yang ketiga.

Begitu juga, jika pada pemungutan suara yang ketiga tidak ada calon yang mendapat dua pertiga jumlah suara, pemungutan suara yang keempat harus dilaksanakan. Pada pemungutan suara yang keempat bruder yang mendapatkan jumlah suara mayoritas mutlak, terpilih.

Jika pemungutan suara keempat tidak menghasilkan jumlah suara mayoritas mut-lak, harus diadakan pemungutan suara yang kelima. Tetapi, pemungutan suara yang kelima ini hanya untuk memilih salah satu dari dua calon yang mendapat suara terbanyak pada pemungutan suara yang keempat. Jika perlu, suatu pemungutan suara sementara akan menentukan calon-calon yang memperoleh suara terbanyak. Pada pemungutan suara sementara dan pada pemungutan suara yang kelima, para calon yang bersangkutan tidak ikut memberikan suara.

Jika pada pemungutan suara yang kelima kedua calon mendapatkan jumlah suara yang sama, maka calon yang berumur lebih muda menjadi yang terpilih. Hasil pemungutan suara harus diumumkan segera sesudah setiap pemungutan suara.

Jika seorang bruder terpilih menjadi Pemimpin Umum, tetapi tidak hadir pada waktu Kapitel, ia harus segera dipanggil. Sidang-sidang ditunda sampai dia hadir.

Jika pemilihan telah dilaksanakan sesuai dengan peraturan-peraturan, ketua Kapitel atau - kalau ketua Kapitel sendiri yang terpilih - sekretaris harus me-nyatakan serta mengumumkan bahwa pemilihan itu sah.

132 Penasihat Umum

Penasihat Umum dipilih oleh Kapitel Umum untuk jangka waktu enam tahun.Ia dapat dipilih lagi.

133 Para Penasihat Umum harus dipilih dengan pemungutan suara satu per satu.

Untuk dipilih menjadi Penasihat Umum, seorang calon harus mendapatkan dua pertiga dari jumlah suara yang sah yang diberikan oleh para anggota yang hadir dan berhak memilih. Jika hal ini tidak terjadi pada hasil pemungutan suara yang pertama atau kedua, prosedur yang berikut harus diikuti:

Jika pada pemungutan suara pertama dan kedua tidak ada bruder yang menerima dua pertiga dari jumlah suara, suatu mayoritas mutlak akan menentukan untuk pemungutan suara yang ketiga. Jika pemungutan suara ketiga tidak menghasilkan mayoritas mutlak, pemungutan suara yang keempat harus dilaksanakan. Tetapi, pemungutan suara yang keempat ini hanya untuk memilih salah satu dari dua calon yang memperoleh suara terbanyak pada pemungutan suara yang ketiga. Jika perlu, suatu pemungutan suara sementara akan menentukan calon-calon yang memperoleh suara terbanyak.

Pada pemungutan suara sementara ini, dan pada pemungutan suara yang keempat, para calon yang bersangkutan tidak ikut memberikan suara. Jika pada pemungutan suara keempat kedua calon mendapatkan jumlah suara yang sama, maka calon yang berumur lebih muda menjadi yang terpilih. Hasil pemungutan suara harus diumumkan segera sesudah setiap pemungutan suara.

134 Jika seorang bruder terpilih menjadi Penasihat Umum, tetapi tidak hadir pada waktu Kapitel, ia harus segera dipanggil. Sidang-sidang Kapitel berjalan biasa, tidak perlu dihentikan.

135 Sesudah pemilihan Pemimpin Umum dan para Pe-nasihat, kertas-kertas pemungutan suara segera di-musnakan.

136 Setelah dewan yang baru terpilih, maka dewan yang lama segera menyerahkan jabatannya dan meng-undurkan diri.

137 Vikaris

Sesudah pemilihan para Penasihat Umum, Kapitel Umum memilih dari antara mereka, Wakil Pemimpin Umum untuk jangka waktu selama Pemimpin Umum tersebut memangku jabatannya.

Wakil Pemimpin Umum dipilih dengan suara mayoritas mutlak dan disebut Vikaris.

Vikaris juga berfungsi sebagai Pemimpin Umum jika Pemimpin Umum tidak hadir atau tidak mampu berfungsi dan selama jabatan Pemimpin Umum mengalami kekosongan.

Sesuai dengan peraturan-peraturan Hukum Kanonik dan Konstitusi kita sendiri, para Penasihat Umum terlibat dalam kepemimpinan Kongregasi, dengan :

- memberikan nasihat dan dukungan kepada Pemimpin Umum;

- bekerja sama dalam menyiapkan kebijakan;

- turut serta dalam membuat keputusan;

- memberikan bantuan dalam pelaksanaan keputusan-keputusan.

Dalam suatu rapat, Pemimpin Umum dengan persetujuan para penasihatnya memutuskan hal-hal yang disebutkan dalam Statuta Kongregasi (artikel 28).

Keputusan-keputusan yang dibuat oleh Pemimpin Umum atau oleh Pemimpin Umum dengan persetujuan para penasihatnya- sesuai dengan Konstitusi dan Statuta Kongregasi kita - mengikat dan berlaku bagi semua bruder.

Pemimipin Umum atau salah seorang penasihatnya berwajib mengunjungi semua provinsi sekurang-kurangnya sekali dalam enam tahun. Selama visitasi ini, setiap bruder hendaknya diberi kesempatan untuk berbicara dengan visitator.

Pemimpin Umum dengan persetujuan para pena-sihatnya mengangka t:

- Bendahara Umum;

- Sekretaris Dewan Umum.

Bruder-bruder tersebut harus sudah berprasetia seumur hidup. Mereka diangkat untuk jangka waktu selama Dewan Umum memangku jabatannya, dan boleh di-angkat lagi.

143 Sekretariat

Sekretaris Dewan Umum mengurus dan bertanggung jawab atas sekretariat. Dalam setiap rapat harus dibuat notulen. Sekretaris bertanggung jawab menyusun laporan yang disahkan oleh Dewan Umum.

144 Bendahara

Mengenai tugas Bendahara Umum, lihat artikel 167 dan 168 dari Konstitusi ini.

145 Perpindahan ke Provinsi Lain

Perpindahan seorang bruder dari provinsi yang satu ke provinsi yang lain, dilaksanakan oleh Pemimpin Umum sesudah berkonsultasi dengan para Pemimpin Provinsi yang bersangkutan.

146 Penyimpangan dari Konsitusi

Pemimpin Umum dengan persetujuan para pena-sihatnya - karena alasan-alasan yang mendesak - dapat memberikan dispensasi kepada suatu provinsi dari pelaksanaan norma-norma disipliner Konstitusi.

10. Provinsi-provinsi dan Komunitas-komunitas

147 Keanekaragaman Dalam Kesatuan

Provinsi-provinsi, begitu juga komunitas-komunitas, akan beriungsi lebih baik kalau mereka lebih kuat berakar dalam situasi masyarakat dan Gereja nasional atau lokal. Hal ini menyangkut keaneka-ragaman; keanekaragaman ini menghasilkan banyak buah, jika didukung oleh iman dalam kesatuan kepedulian kerasulan dan dalam persaudaraan yang tulus.

148 Provinsi-provinsi

Suatu provinsi terdiri dari sejumlah komunitas lokal yang di dalam keseluruhan kongregasi membentuk suatu kesatuan dalam pengabdian istimewa satu kepada yang lain, dengan Kapitel Provinsinya sendiri, Dewan Provinsinya sendiri, dan Statuta Provinsi sendiri. Suatu provinsi dapat didirikan atau ditutup baik oleh Kapitel Umum maupun oleh Pemimpin Umum dengan per-setujuan para penasihatnya.

Semua bruder termasuk anggota suatu provinsi, kecuali anggota Dewan Umum, Bendahara Umum, dan Sekretaris Dewan Umum.

149 Dewan Provinsi dan Kapitel Provinsi

Dewan Provinsi terdiri dari Pemimpin Provinsi dan para penasihatnya. Jumlah penasihat ditentukan oleh Kapitel Provinsi, tetapi hendaknya paling sedikit tiga orang.

150 Untuk dapat dipilih menjadi Pemimpin Provinsi, calon harus sudah berprasetia seumur hidup sekurang-kurangnya lima tahun.

151 Seorang Pemimpin Provinsi memangku jabatannya selama enam tahun. Ia hanya dapat dipilih sekali lagi untuk masa jabatan enam tahun berikutnya, dengan mem-perhatikan apa yang ditetapkan dalam artikel 48 dan 49 Statuta Kongregasi kita.

152 Seorang Penasihat Pemimpin Provinsi memangku jabatannya selama enam tahun, dan dapat dipilih lagi untuk masa jabatan enam tahun berikutnya, dengan memperhatikan apa yang ditetapkan dalam artikel 48 dan 49 Statuta Kongregasi kita.

153 Dalam Statuta Kongregasi kita tercantum peraturan- peraturan tentang cara-cara menyusun dan ber-fungsinya Dewan Provinsi. Hal ini pun berlaku secara sama bagi penyusunan dan berfungsinya Kapitel Provinsi.

154 Kapitel Umum atau Pemimpin Umum dengan perse-tujuan para penasihatnya, - karena alasarl-alasan yang sangat kuat - dapat membatalkan suatu keputusan Kapitel Provinsi atau suatu keputusan Dewan Provinsi. Alasan-alasan untuk bertindak demikian harus dikomunikasikan.

155 Statuta Provinsi

Suatu provinsi memiliki Statuta Provinsi sendiri. Statuta ini disusun oleh Kapitel Provinsi, atau oleh Dewan Provinsi, dan perlu disahkan oleh Pemimpin Umum dengan persetujuan para penasihatnya.

156 Rumah (Komunitas)

Pembukaan dan penutupan sebuah rumah (komunitas) merupakan wewenang Dewan Umum, sesudah dikonsultasikan dengan uskup setempat. (t)

157 Dewan Lokal

Suatu komunitas mempunyai Pemimpin Lokal. Ia bersama para penasihatnya merupakan Dewan Lokal. Dalam suatu komunitas kecil semua bruder yang berprasetia bersama dengan Pemimpin Lokal dapat membentuk Dewan Lokal. Pemimpin Lokal merupakan ketua Dewan Lokal dan ketua rapat komunitas.

Para Pemimpin dan Penasihat Lokal diangkat oleh Pemimpin Provinsi dengan persetujuan para Pena-sihatnya, sesudah berkonsultasi dengan komunitas yang bersangkutan.

Untuk dapat dipilih menjadi Pemimpin Lokal, seorang bruder harus sudah berprasetia seumur hidup sekurang-kurangnya tiga tahun. Pemimpin dan para anggota Dewan Lokal lainnya di dalam komunitasnya bertugas:

- memberikan dorongan dan inspirasi;

- mengkoordinasikan dan mengatur;

- mewakili;

- dan dalam hal-hal tertentu memelihara tata tertib.

158 Hak untuk Naik Banding

Seorang bruder atau suatu komunitas yang tidak mendapat persetujuan Dewan Lokal atau Pemimpin Lokal, mempunyai hak untuk naik banding lebih dahulu kepada Dewan Provinsi atau Pemimpin Provinsi.

Kemudian, jika tidak mendapat persetujuan, maka bruder atau komunitas tersebut berhak untuk naik banding kepada Dewan Umum atau Pemimpin Umum. Jika tidak tercapai suatu persetujuan, maka Pemimpin Umum akan memutuskan.

Dalam perkara-perkara penting, pemimpin yang lebih tinggi tidak mengambil keputusan sebelum berkonsultasi dengan semua pihak yang bersangkutan.

11. Harta Kekayaan dan Pengelolaannya

159 Harta Milik Pribadi

Sebelum berprasetia sementara, kita mengalihkan pengelolaan harta milik kita kepada orang yang kita kehendaki. Kita juga bebas mengatur dan menentukan cara penggunaan dan pemanfaatannya.

Surat wasiat harus dibuat, paling lambat sebelum berprasetia seumur hidup. Surat wasiat ini harus memiliki kekuatan hukum sipil. Untuk mengubah apa yang telah diatur atau bertindak menurut hukum mengenai harta milik ini, diperlukan izin dari Pemimpin Provinsi. (u)

160 Kita mempertahankan hak milik atas harta benda kita dan hak mendapatkan harta benda lain, tetapi hanya melalui warisan dan peninggalan. Dengan izin dari Pemimpin Umum, seorang bruder yang berprasetia seumur hidup boleh melepaskan warisan apa pun yang dimilikinya atau yang akan menjadi haknya. Pemimpin Umum dapat menyerahkan wewenang dan tanggung jawab ini kepada Pemimpin Provinsi.

161 Berbagai Harta Milik Bersama

Konsekuensi berbagi harta milik bersama mencakup :

- Apa pun yang kita peroleh sebagai imbalan atas kegiatan-kegiatan kita, menjadi milik kongregasi.

Kongregasi berwajib memelihara kita selama kita menjadi anggota persekutuan ini.

- Pendapatan dari tugas sampingan juga diserahkan kepada kongregasi.

- Hadiah-hadiah pribadi, - setelah diterima - menjadi milik kongregasi. Penggunaannya ditentukan oleh provinsi masing-masing.

- Kita tidak mempunyai rekening bank atau rekening giro pribadi yang dapat kita gunakan seturut kehendak kita sendiri.

- Semua pelayanan atau lembaga yang secara apa pun bergantung pada kongregasi, memberikan laporan keuangan kepada kongregasi.

162 Kekayaan Kongregasi

Kongregasi, sebagai badan hukum, menurut hukum berkuasa untuk memperoleh, memiliki, mengelola, dan memindahkan hak atas barang-barang duniawi. (v) Kekayaan kongregasi menjadi milik kongregasi secara keseluruhan, seperti yang dimaksudkan dalam Konstitusi kita.

Jikamenurutsejarahnyasebagian dari kekayaanitu telah diperoleh atau telah terdaftar atas nama provinsi, komunitas, atau badan yang tergabung dengannya, maka pemilikan atau pengelolaannya hanya atas nama kongregasi seluruhnya.

Para Pemimipin Provinsi dan penasihat mereka, yang menurut Konstitusi mendapat kepercayaan untuk mengelola sebagian dari kekayaan Kongregasi, harus menjamin bahwa kekayaan ini dipindahtangankan kepada suatu badan hukum - didirikan sesuai dengan hukum negara tempat kekayaan itu berada - dan mengangkat dewan pengurus badan tersebut.

Dalam perumusan tujuan badan yang dimaksudkan dalam artikel 155, rujukan atas peraturan-peraturan Konstitusi kita harus dibuat, sekaligus harus dicantumkan larangan mengubah status tanpa izin tertulis dari Dewan Umum.

Badan hukum yang didirikan sesuai dengan artikelartikel yang mendahului - setiap saat dan atas permintaan Dewan Umum - terikat untuk segera menyerahkan kekayaannya, atau sebagian dari kekayaan tersebut kepada kongregasi secara keseluruhan atau kepada suatu badan hukum yang ditunjuk oleh Dewan Umum.

Dewan Umum diberi kepercayaan untuk menentukan kebijakan mengenai kekayaan Kongregasi secara keseluruhan, serta pengelolaan kekayaan tersebut. Dewan Umum mempertanggungjawabkan semuanya ini kepada Kapitel Umum. Kemudian Kapitel Umum membebaskan Dewan Umum dari kebijakan yang dianut dan dari pengelolaan kekayaan itu.

167 Dalam pengelolaan kekayaan kongregasi, Dewan Umum dibantu oleh Bendahara Umum yang melaksanakan tugasnya di bawah petunjuk Pemimpin Umum. Bendahara Umum bukan anggota Dewan Umum.

168 Setiap tahun Bendahara Umum mempertanggung-jawabkan kepada Dewan Umum, pengelolaan kekayaan yang dilaksanakannya atas perintah Dewan Umum, dan atas pengawasan terhadap dewandewan yang lebih rendah yang dikuasakan kepadanya. Setiap tahun Dewan Umum mengesahkan pengelolaan kekayaan yang dilaksanakan oleh Bendahara Umum berdasarkan laporan pemeriksaan keuangan resmi.

169 Dewan Provinsi diberi kepercayaan untuk menentukan kebijakan yang menyangkut kekayaan provinsi serta pengelolaannya, dan mempertanggungjawabkannya baik kepada Dewan Umum maupun kepada Kapitel Provinsi. Kapitel Provinsi dan Dewan Umum membebaskan Dewan Provinsi yang bersangkutan dari kebijaksanaan yang dianut.

170 Pengelolaan harta kekayaan kita hendaknya sesuai dengan Hukum Kanonik dan Hukum Sipil.

171 Statuta Kongregasi

Di dalam Statuta Kongregasi kita termuat peraturan-peraturan lebih lanjut mengenai harta kekayaan dan pengelolaannya.

BAGIAN IV

PERATURAN AKHIR

172 Konstitusi ini mengikat semua anggota kongregasi kita, kecuali yang memperoleh dispensasi yang sah.

173 Suatu Kapitel Umum dapat mengadakan perubahan-perubahan dalam Konstitusi ini, jika mayoritas dua pertiga dari jumlah suara memutuskan demikian, dan disetujui oleh Takhta Suci.

174 Hak interpretasi praktis Konstitusi ini dimiliki oleh Kapitel Umum, atau oleh Pemimpim Umum dengan persetujuan para penasihatnya. Wewenang interpretasi autentik dimiliki oleh Takhta Suci.



Daftar Kutipan *) Bahan Acuan

1) Rm 14: 17 a. KHK Kan. 675

2) Mrk 2: 27 b. KHK Kan. 578

3) 1Kor 12:4-5 c. KHK Kan. 675

4) 1Kor 12: 14 d. KHK Kan. 608, 665, 667.1

5) 2Kor 4:5 e. KHK Kan. 663.5

6) 1Kor 12:26 f. KHK Kan. 663.3

7) 1 Yoh 4: 8 g. KHK Kan. 663.2

8) Yoh 15:12 h. KHK Kan. 664

9) Kis 4: 32 i. KHK Kan. 663.4

10) 1Tes 5:15 j. KHK Kan. 590.2

11) Rm 15:7 k. Konst. Bab 11, pasal 159 - 171

12) Mat 20: 28 l. KHK Kan. 669

13) Yoh 10:30 m. KHK Kan. 651

14) Gal 2:20 n. KHK Kan. 648, 649, 653

15) 1Kor 10:16-17 o. KHK Kan. 641, 643, 645

16) Mat 6:12 p. KHK Kan. 647

17) 1Yoh 3:20 q. KHK Kan. 655-658

18) bdk. Flp 2:7-8 r. KHK Kan. 684-704

19) Yoh 12 :,24 s. KHK Kan. 631

20) Luk 6: 20 t. KHK Kan. 609.1, 616

21) Mat 6:19 u. KHK Kan. 668

22) Kis 4: 32 v. KHK Kan. 634

23) Flp 2: 8

24) bdk. Flp 4:23

*) Semua kutipan diambil dari ALKITAB Lembaga Alkitab Indonesia Jakarta 1987